Jelang Satu Suro di Jombang, Kembang Tujuh Rupa Diburu Pembeli

Penjual kembang di kawasan Pasar Citra Niaga Jombang
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Jelang malam pergantian tahun baru Islam yakni Hijriyah, memiliki kisah tersendiri di Indonesia, seperti masyarakat Jawa. Pergantian tahun ini, bagi masyarakat Jawa, dikenal dengan sebutan “Malam Satu Suro”.

Sakralitas malam 1 Suro, mafhumnya bagi tradisi Jawa, ditandai dengan kegiatan atau ritual-ritual. Seperti salah satunya mensucikan benda-benda pusaka, mandi kembang, atau selametan bubur suro, dan lainnya.

Baca Juga

Utamanya, disamping melakukan ritual, malam pergantian tahun baru ini dimanfaatkan masyarakat memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Harapannya, agar sepanjang tahun diberi kemudahan, kelancaran, dan kemakmuran hidup, rezeki, dan tolak balak.

Hingga saat ini, pelestarian tradisi ini masih terasa kuat dan kental. Termasuk di Kabupaten Jombang. Seperti di sudut Jalan A Yani, masyarakat tampak memadati penjual kembang atau bunga. Jenis kembang yang diburu masyarakat, di antaranya kembang setaman tujuh rupa, kembang pusaka (telon), kembang ziarah, dan kembang sedap malam.

Hana (48) seorang penjual kembang di depan Pasar Citra Niaga (PCN) Jombang mengatakan, sejak Rabu (19/8/2020) pagi tadi, lapak kembangnya dipadati pembeli. Kendati pembeli tahun ini, kata dia, tak sebanyak tahun lalu.

“Hari ini ramai pembeli, karena jelang suroan. Mulai dua minggu ini lumayan ada pembeli,” katanya.

Menurutnya, masyarakat banyak memburu kembang setaman tujuh rupa, digunakan siraman (mandi). Kembang telon digunakan untuk jamasan pusaka atau memandikan benda-benda pusaka. Kembang ziarah digunakan untuk ziarah ke makam. Sedangkan bunga sedap malam digunakan di dalam rumah atau di tempat adat tertentu.

Dia mengaku, mendatangkan kembang untuk dijualnya kembali ini tak hanya didapat dari wilayah Jombang, Namun juga dari berbagai daerah.

“Kembang ini dipasok dari berbagai daerah, Nganjuk, Blitar, Bangil. Nanti yang beli juga dari berbagai dearah juga ada,” ungkapnya, pada KabarJombang.com.

Senada juga diungkap Maisaroh (40), penjual kembang yang lapaknya tak jauh dari Hana. Ia mengaku penjualan bunga mengalami kenaikan, jelang malam Suro.

“Kalau saat ini yang beli masih landai, nanti sore biasanya banyak. Ini saya aja tutupnya jam 10 sampai 11 malam. Biasanya memang untuk hajat Suroan,” ungkap Maisaroh.

INSTAGRAM

[iscwp-slider username="kabarjombangdotcom" dots="false" limit="5" popup="true" popup_gallery="false" show_likes_count="false" instagram_link_text="Ikuti Instagram"]

Berita Terkait