Kantor BUMDes kosong. (Ilustrasi AI)
PERAK, KabarJombang.com – Polemik dugaan penyalahgunaan dana ketahanan pangan untuk penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pagerwojo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, kembali memanas. Warga setempat menyoroti ketidakjelasan penggunaan anggaran yang bersumber dari Dana Desa (DD) tersebut, menyusul dikosongkannya kantor BUMDes sejak sebulan terakhir.
Kantor BUMDes Pagerwojo yang berlokasi di area Masjid Baiturrahman kini tampak terbengkalai dan tidak menunjukkan adanya aktivitas operasional. Kondisi ini membuat kecurigaan warga semakin menguat terhadap aliran suntikan dana DD tahun 2025 sebesar Rp216 juta yang dinilai tidak transparan dan “tidak jelas jluntrungnya.”
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa mandeknya kegiatan operasional ini memperkuat dugaan adanya penyelewengan dana penyertaan modal yang seharusnya dikelola untuk kesejahteraan masyarakat melalui program ketahanan pangan.
“Terus dikemanakan dana tersebut, aktivitas Bumdes juga tidak ada,” ujar tokoh muda Pagerwojo, Selasa (13/10/2026).
Tokoh muda yang kritis terhadap Pemdes Pagerwojo itu mengatakan, pada awalnya ia mendengar informasi jika dana dari DD tersebut untuk tambahan modal usaha Bumdes dalam bidang jual beli beras dan usaha berbasis online yang sama dengan usaha Direktur Bumdes Pagerwojo, Bani Ahmad.
“Menurut sepengetahuan saya kok gak ada usaha jual beli beras, yang saya dengar itu memang Bani punya usaha berbasis online, “katanya.
Lebih lanjut tokoh muda berinisial SH itu mengatakan jika persoalan BUMDes Pagerwojo seharusnya layak diselidiki APH.
“Seharusnya pihak APH saat dana Bumdes Pagerwojo dipertanyakan warga sekitar enam bulan lalu, turun tangan melakukan penyelidikan. Apalagi anggaran yang diduga raib adalah bersumber dari Dana Desa,”jelasnya.
“Dengan kosongnya kantor BUMDes di area masjid dugaan warga jika uang Bumdes dari DD hilang semakin kuat, mosok APH nggak turun,“tandasnya.
Yang lebih memprihatinkan lagi, kata SH, kantor BUMDes di area masjid diusir warga setempat karena diduga sebagai tempat perselingkuhan oknum Pengurus Bumdes Pagerwojo.
“Kabarnya kantor Bumdes di masjid nggak boleh warga karena diduga sebagai tempat perselingkuhan oknum Bumdes. Lebih tepatnya tanya saja ke takmir masjid, ” pungkas SH.
Direktur BUMDes Pagerwojo, Bani Ahmad saat dikonfirmasi FaktualNews.co membantah tudingan warga jika penyertaan modal dari DD untuk Bumdes yang kelolanya tidak jelas jluntungnya.
Menurut Bani Ahmad hingga saat ini BUMDes Pagerwojo masih tetap beropeperasi dengan sistem online. Bahkan kata Bani memiliki sebanyak enam kurir dalam operasional sistem online.
“Ada sebanyak enam kurir yang menjalankan operasional Bumdes Pagerwojo. Sementara kegiatan usahanya adalah kulakan gabah dijadikan beras dan telur ayam yang dikirim ke pengecer juga ke konsumen langsung,”ujarnya.
Namun, Bani Ahmad mengaku tidak tahu persis perputaran uang di BUMDes Pagerwojo. Katanya yang tahu persis adalah Sekretaris dan Bendahara karena kedua pengurus ini selalu membukukan kegiatan BUMDes Pagerwojo.
“Mohon maaf saya tidak tahu, yang tahu perputaran uangnya adalah sekretaris dan bendahara,” kilahnya.
Sementara saat dikonfirmasi terkait informasi jika Kantor BUMDes Pagerwojo diusir dari area masjid karena diduga jadi tempat perselingkuhan oknum pengurus dengan karyawan Bumdes, Bani Ahmad juga mengaku tidak tahu. “Wah mohon maaf saya kok juga tidak tahu,”ujarnya singkat.
Sementara itu, Kaur Perencanaan Desa Pagerwojo, Arif Bagus Setyawan saat dikonfirmasi terkait Bumdes pagerwojo mengatakan, yang ia ketahui BUMDes Pagerwojo belum ada kegiatan yang nyata. Karena hingga saat ini belum ada pemasukan PAD yang bersumber dari BUMDes.
“Ini tadi kami rapat internal Pemerintah Desa Pagerwojo, rencananya dalam minggu ini akan mengagendakan pemanggilan pengurus Bumdes, untuk meminta keterangan dan melakukan audit investigasi terkait permasalahan Bumdes ini, ” kata Arif Bagus Setyawan. (FaktualNews.co)
Leave a Comment