Ibu Hamil Diduga Diterlantarkan di RS PMC Jombang, Suami: “Persalinan Hanya Dibantu Mertua”

Bayu (29) ayah bayi yang meninggal saat ditemui di kediamannya.
  • Whatsapp

SUMOBITO, KabarJombang.com – Guratan kecewaaan, masih tampak di wajah Bayu (29), bapak bayi yang meninggal lantaran sang istri diduga ditelantarkan saat persalinan di RS Pelengkap Medica Center (PMC), Jombang.

Bayu mengaku sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit tersebut. Menurutnya, saat proses persalinan DR (27) istrinya, hanya dibantu mertuanya. Sedangkan perawat atau bidang di RS PMC tidak ada.

Baca Juga

“Saya cuma minta keadilan, apakah karena saya pakai BPJS makanya diperlakukan seperti itu. Ya jangan seperti itulah. Saya butuh untuk dihargai, dibantu. Jangan dipandang sebelah mata seperti itu,” katanya saat ditemui di kediamannya, Kecamatan Sumobito, Jombang, Rabu (5/8/2020) sore.

Ia menceritakan kronologi hingga sang bayi yang merupakan anak keduanya itu meninggal dunia. Saat itu, Selasa (4/8/2020) pukul 01.00 WIB dini hari, dia berangkat ke RS mengantarkan istrinya menggunakan ambulans desa (Mobil Siaga Desa). Sekitar setengah jam kemudian, dia sampai di RS PMC.

“Di sana itu sudah pembukaan 1 atau pembukaan 2. Kemudian didata, saya mengurus administrasi. Tapi air ketuban istri keluar terus. Kemudian saya tanya ke petugas UGD di sana, kenapa air ketubannya keruh, Bukannya bening? petugas UGD menjawab tidak apa-apa, itu biasa,” katanya menirukan jawaban petugas medis kala itu.

Saat masuk UGD, DR kemudian di-rapid test, dan hasilnya reaktif. Hanya saja, dia dan istri tidak mengalami gejala seperti batuk atau apapun. Hasil rapid test itupun, lanjut Bayu, tidak bisa menjamin seseorang terkena Covid-19. Yang dia tahu, ada jarak waktu seseorang dinyatakan positif atau tidak setelah dilakukan Swab test.

“Kemudian pukul 03.00 WIB istri saya dipindah ke ruang isolasi Covid-19 paling atas. Jadi bukan diarahkan ke ruang persalinan. Di sana, tidak ada perawat sama sekali. Kalau ada pun, petugas medis tidak mau masuk,” bebernya.

Lalu, kata Bayu, dia diminta menunggu 6 jam oleh petugas jaga, untuk dilakukan tindakan observasi. Hanya saja, dia mengetahui air ketuban istrinya makin deras keluar. “Saya tanya lagi, dijawab petugas medis, itu sudah biasa. Katanya seperti itu,” ujar Bayu.

Hingga pukul 04.30 WIB, DR kemudian melahirkan bayi perempuannya. “Sama sekali tidak ada perawat. Jadi persalinan istri saya dibantu ibu mertua saya di ruang isolasi itu. Mertua saya sampai telpon-telpon petugas. Malah dijawab, iya bu jangan teriak-teriak nanti nunggu jam 9 pagi. Padahal bayi sudah lahir,” paparnya.

Banyu mengungkapkan, kondisi bayinya saat lahir tidak menangis. Namun, ia menyebut pengalaman adiknya saat melahirkan anak pertama dulu, juga tidak menangis. Saat itu, kata Bayu, dibantu bidan dan bayi adiknya langsung menangis. “Harusnya ya lebih inisiatif, jangan ditelantarkan seperti itu. Kita dianggap seperti orang yang diisolasi,” tandasnya.

Sekitar setengah kemudian pasca bayinya lahir, atau pukul 05.00 WIB, lanjut Bayu, bidan RS setempat baru datang ke ruangan. Juga, ada dokter yang hanya melihat dari luar ruangan. Dokter tersebut, katanya, tidak masuk ke ruangan kala bidan berada di dalam ruangan.

“Kalau memang pihak RS bilang menangani, mana buktinya?. Bidan datang setelah setengah jam bayi lahir. Tidak ada pertolongan setelah setengah jam bayi keluar. Bayi butuh bantuan pernafasan pakai plasenta kan. Paling tidak, ada pancingan lah, kalau telat ya gimana,” ucapnya.

Tidak berhenti sampai di situ, pria yang bekerja sebagai pegawai pabrik platinum di Surabaya ini pun kembali bertanya kepada bidan soal kondisi bayi. Namun ia memperoleh jawaban dari bidan tersebut, bahwa bayinya meninggal saat berada di dalam kandungan.

“Dapat jawaban seperti itu, saya langsung ngomong, jangan bilang meninggal di dalam kandungan. Itu kan dia (bayi) bisa keluar sendiri, berarti kan masih hidup. Ada usaha dorongan untuk keluar. Kalau pengalaman saya dulu saat ibu saya melahirkan, bayi meninggal di dalam kandungan itu harus dikasih obat perangsang, diberi induksi agar bisa ekstra untuk ngeden (mengejan),” tuturnya.

Bayu melanjutkan, kalaupun memang bayinya meninggal di dalam kandungan, tidak mungkin ada dorongan usaha keluar dan bayi tersebut lahir masih terlihat segar.

Saat itu, Bayu mengatakan mendapat alasan perawat yang tidak mau menangani. Alasannya, karena bukan bidangnya. Kemudian alasan lainnya menunggu observasi selama 6 jam dan menunggu pukul 09.00 WIB.

“Terus terang saya kecewa. Sebagai perawat kan ada ilmu pertolongan pertama saat proses melahirkan. Kenapa dia tidak mau masuk menangani, kok nunggu bidannya. Ya meskipun bukan bidangnya, setidaknya ada pertolongan pertama, kasih nafas buatan kah, oksigen kah,” ujarnya.

“Mertua saya bingung dan sedih, karena tidak pernah menangani orang melahirkan. Kalau seperti itu pelayanannya, ngapain dibawa ke RS. Dukun melahirkan juga bisa,” kata dia memungkasi.

INSTAGRAM

[iscwp-slider username="kabarjombangdotcom" dots="false" limit="5" popup="true" popup_gallery="false" show_likes_count="false" instagram_link_text="Ikuti Instagram"]

Berita Terkait