Kajian keputrian "MUTIARA" SMPN 2 Kesamben yang dilaksanakan tiap hari Jumat
KabarJombang.com, KESAMBEN – SMP Negeri 2 Kesamben meluncurkan program kokurikuler MUTIARA (Muslimah Tangguh, Ber-Iman, Ber-Adab, dan Ber-Akhlaqul Karimah) serta Pengolahan Lahan Mandiri untuk membentuk karakter siswa yang beriman, mandiri, peduli lingkungan, dan memiliki keterampilan hidup.
Program MUTIARA menjadi wadah pembinaan keputrian bagi siswi untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, adab, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap Jumat pukul 11.40-12.20 WIB di gazebo sekolah, bersamaan dengan siswa putra mengikuti salat Jumat di masjid sekolah.
Kepala SMP Negeri 2 Kesamben, Laily Syarifah, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk profil lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki pondasi iman dan adab yang kokoh melalui program MUTIARA dan program kokurikuler lain yang mendukung, serta memiliki jiwa mandiri dan kepekaan sosial yang terasah lewat pengolahan lahan,” ujarnya.
Menurut Laily, pendidikan karakter perlu dibangun melalui pembiasaan dan pengalaman langsung yang dilakukan secara berkelanjutan. Karena itu, kegiatan kokurikuler tidak hanya diarahkan pada aspek keagamaan, tetapi juga kepedulian sosial dan lingkungan.
“Anak-anak tidak hanya belajar dari teori, tetapi juga melalui kegiatan nyata. Mereka belajar bertanggung jawab, bekerja sama, merawat lingkungan, sekaligus membangun kebiasaan baik yang diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Dalam program Pengolahan Lahan Mandiri, siswa kelas 7 mengawali kegiatan dengan pembibitan dan budidaya tanaman di lahan sekolah. Mereka belajar menyiapkan bibit, menggemburkan tanah, hingga menanam tanaman hortikultura seperti kangkung, kacang panjang, dan timun.
Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan melalui program “Semai Bersama di Sekolah, Tumbuh di Masyarakat”. Tanaman yang telah ditanam di sekolah dibawa pulang untuk dirawat siswa di rumah. Cara ini diharapkan membuat kebiasaan merawat tanaman terus terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Siswa kelas 8 mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan pemanfaatan lahan sekolah. Mereka membuat ecobrick dari sampah plastik yang sulit terurai, sekaligus menyiapkan lahan untuk ditanami terong. Kegiatan tersebut menjadi sarana belajar tentang pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, pengolahan tanah, dan perawatan tanaman.
Sementara siswa kelas 9 berfokus pada penataan dan penghijauan hutan sekolah serta budidaya tanaman cabai. Mereka menyiapkan lahan, menata area hutan sekolah, kemudian melakukan penanaman dan perawatan tanaman pangan.
“Harapannya, apa yang mereka dapatkan di sekolah tidak berhenti sebagai kegiatan kokurikuler saja. Nilai disiplin, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta akhlak yang baik bisa menjadi kebiasaan dan terbawa ketika mereka berada di rumah maupun di masyarakat,” pungkas Laily.
Melalui sinergi pendidikan karakter, keagamaan, kepedulian lingkungan, dan keterampilan praktis tersebut, SMP Negeri 2 Kesamben berkomitmen membentuk siswa yang mandiri, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Leave a Comment