Advertorial

MPLS Ramah SMPN 1 Ngoro, Jadi Meeting Point Sekaligus Meeting Point Peserta Didik Baru

NGORO, KabarJombang.com– SMP Negeri 1 Ngoro mengawali Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bertajuk “MPLS Ramah” bagi 287 peserta didik baru.

Kegiatan yang berlangsung mulai 13 hingga 17 Juli 2026 tersebut dirancang sebagai ruang adaptasi yang aman, nyaman, menyenangkan, serta bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan, maupun perpeloncoan.

Bukan sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS di SMPN 1 Ngoro menjadi meeting point sekaligus melting point yang menyatukan peserta didik dari berbagai latar belakang menuju tujuan yang sama, yakni menempuh pendidikan dan meraih prestasi.

Kepala Sekolah SMPN 1 Ngoro, Shobirin, S.Pd., M.M, mengatakan konsep MPLS Ramah dipilih sebagai komitmen sekolah untuk meninggalkan paradigma lama yang identik dengan hukuman maupun tindakan kekerasan selama masa pengenalan lingkungan sekolah.

“Tema MPLS tahun ini mengusung konsep MPLS Ramah yang mengedepankan no violence atau tanpa kekerasan dan no punishment atau tanpa hukuman. Kami ingin menciptakan suasana MPLS yang lebih menggembirakan sehingga peserta didik baru merasa nyaman sejak hari pertama berada di SMPN 1 Ngoro,” ujarnya saat ditemui di SMPN 1 Ngoro, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, MPLS di SMPN 1 Ngoro didesain dengan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Lebih dari sekadar kegiatan orientasi, MPLS menjadi ruang perjumpaan bagi peserta didik baru yang berasal dari beragam sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah dengan latar belakang yang berbeda.

“MPLS kami desain dengan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan tentunya menggembirakan. Kegiatan ini menjadi meeting point sekaligus melting point bagi anak-anak yang datang dari berbagai latar belakang. Meski berbeda asal sekolah dan lingkungan, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menempuh pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik,” jelasnya.

Ia menegaskan MPLS Ramah bukan sekadar slogan, melainkan perubahan paradigma dalam menyambut peserta didik baru.

“Jangan sampai MPLS dijadikan ajang balas dendam. Paradigma lama yang identik dengan kekerasan, perpeloncoan, maupun hukuman harus diubah menjadi suasana yang penuh kegembiraan. Tujuan MPLS adalah agar anak-anak benar-benar mengenal lingkungan sekolah dengan baik dan merasa nyaman berada di sekolah,” tegasnya.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan penyusunan materi yang sepenuhnya mengacu pada pedoman Dinas Pendidikan. Seluruh panitia juga diminta memastikan tidak ada praktik perpeloncoan maupun tindakan kekerasan selama kegiatan berlangsung.

“Saya sangat menekankan kepada seluruh petugas MPLS bahwa kegiatan ini benar-benar harus ramah, tidak ada perpeloncoan ataupun kekerasan. Materinya sudah mengacu pada Dinas Pendidikan dan kami memperbanyak ice breaking agar suasana tidak kaku, lebih fleksibel, dan menggembirakan,” papar Shobirin.

Panitia turut menyiapkan berbagai bentuk apresiasi kepada siswa yang aktif mengikuti kegiatan untuk menambah semangat peserta didik.

“Kami juga memberikan reward. Misalnya saat kegiatan senam, anak-anak yang paling bersemangat kami berikan penghargaan sebagai motivasi agar teman-teman yang lain ikut bersemangat mengikuti seluruh rangkaian MPLS,” imbuhnya.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta didik baru memperoleh berbagai materi pengenalan lingkungan sekolah, budaya belajar, pendidikan karakter, hingga pengenalan tenaga pendidik. Salah satu kegiatan yang dinilai paling menarik adalah sesi pengenalan seluruh guru dan tenaga kependidikan SMPN 1 Ngoro.

Menurut Shobirin, kegiatan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik baru. Jika di bangku SD atau MI mereka umumnya hanya mengenal beberapa guru kelas, maka saat memasuki SMP mereka harus mulai mengenal puluhan guru mata pelajaran.

“Dari jenjang SD mungkin gurunya hanya sedikit dan didominasi guru kelas. Di SMPN 1 Ngoro, anak-anak harus mulai mengenal puluhan bapak dan ibu guru. Itu memang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Namun kami tidak memberikan hukuman apabila belum hafal. Terpenting mereka menikmati prosesnya terlebih dahulu, have fun saja. Lambat laun mereka pasti akan hafal dengan seluruh guru di SMPN 1 Ngoro,” ucapnya.

Selain memperkenalkan lingkungan sekolah, SMPN 1 Ngoro memanfaatkan MPLS sebagai sarana penanaman pendidikan karakter. Pembiasaan dilakukan sejak hari pertama melalui doa bersama sebelum kegiatan dimulai, salat Zuhur berjamaah, kultum, hingga penerapan budaya 3S (Senyum, Salam, dan Sapa) dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Ia berharap seluruh rangkaian MPLS mampu membantu peserta didik baru beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan sekolah, teman-teman baru, maupun sistem pembelajaran di jenjang SMP.

“Harapan kami, anak-anak segera bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru, sekolah yang baru, teman-teman baru, dan sistem pembelajaran yang baru sehingga mereka merasa nyaman dalam mengikuti proses belajar di SMPN 1 Ngoro,” tuturnya.

Sebagai penutup rangkaian MPLS, SMPN 1 Ngoro akan menggelar Perkemahan Jumat Malam Sabtu (Perjusa) yang sekaligus menjadi penutupan resmi kegiatan MPLS. Dalam kegiatan tersebut, sekolah akan memperkenalkan 24 ekstrakurikuler yang dimiliki agar peserta didik dapat mengenali minat dan bakatnya sejak dini.

“Kami berharap anak-anak lebih mantap menentukan pilihan sesuai bakat yang dimiliki. Ekstrakurikuler menjadi salah satu wadah penting untuk mengembangkan potensi sekaligus meraih berbagai prestasi,” pungkas Shobirin.

 

Leave a Comment
Share
Published by
Wahyu Umattulloh Al'iman