Advertorial

Minisimposium di RSUD Jombang: Tenaga Kesehatan Harus Lebih Peka Terhadap Kesehatan Mental Anak

JOMBANG, KabarJombang.com — Anak bukan hanya membutuhkan perawatan fisik, tetapi juga dukungan emosional dan psikologis dalam setiap proses medis yang mereka jalani. Hal ini menjadi fokus utama dalam minisimposium bertajuk “Mewujudkan Anak Sehat Mental dan Jiwa Melalui Layanan Kesehatan yang Peka Psikologis” yang digelar di Ruang Pertemuan Mini Lab, RSUD Kabupaten Jombang, Kamis (16/10/2025).

Direktur RSUD Jombang dr. Pudji Umbaran, M.KP. dalam pesannya menyampaikan bahwa kesehatan anak tidak hanya diukur dari aspek fisik semata, tetapi juga keseimbangan mental dan emosionalnya.

“Kami berkomitmen untuk membangun layanan kesehatan yang holistik, di mana setiap tenaga kesehatan memiliki kepekaan terhadap aspek psikologis anak. RSUD Jombang terus berupaya menciptakan lingkungan pelayanan yang ramah anak, menenangkan, dan edukatif, sehingga setiap anak yang datang untuk berobat juga mendapatkan dukungan bagi tumbuh kembang mentalnya,” ujar dr. Pudji.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam ini menghadirkan dua narasumber utama: Psikolog Klinis CH. Widayanti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, serta Ketua Sub Etik Disiplin Komite Keperawatan Nur Chamid, S.Kep. Ns, M. Hum.

Dalam paparannya, Widayanti menekankan pentingnya memahami psikologi perkembangan anak dari bayi hingga remaja, serta peran komunikasi empatik dalam pelayanan kesehatan.

“Setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kecemasan dan ketakutan, terutama terhadap prosedur medis. Tugas tenaga kesehatan bukan hanya melakukan tindakan fisik, tetapi juga menciptakan rasa aman secara psikologis,” jelas Widayanti.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komunikasi empatik dengan mendengarkan tanpa menghakimi, menggunakan bahasa yang sederhana, dan memvalidasi emosi anak dapat secara signifikan menurunkan resistensi dan meningkatkan kerja sama anak selama proses perawatan.

Sementara itu, Nur Chamid menyoroti tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan, terutama ketika harus menangani anak yang menolak tindakan medis di tengah tekanan waktu dan kondisi ruang pelayanan yang ramai.

“Tantangan terbesar adalah menghadapi anak yang sangat takut atau menolak tindakan, terutama saat orang tua justru menambah kecemasan. Dalam kondisi seperti ini, penting bagi tenaga kesehatan untuk menenangkan diri terlebih dahulu, menggunakan strategi komunikasi empatik, dan menjelaskan tindakan secara bertahap,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antar tenaga kesehatan untuk menciptakan lingkungan pelayanan yang lebih kondusif secara psikologis.

Sebanyak 52 peserta, yang terdiri dari perawat, bidan, fisioterapis, terapis wicara, dan okupasi terapi, mendapatkan berbagai materi praktis, mulai dari strategi deteksi dini masalah emosi dan perilaku anak hingga penerapan etik dan disiplin profesi dalam layanan sehari-hari.

Dalam sesi refleksi, peserta menyampaikan pentingnya menerapkan komunikasi yang empatik, seperti menyapa anak dengan suara lembut, melakukan kontak mata sejajar, hingga mengakui ketakutan anak dengan pernyataan yang menenangkan. Orang tua juga dilibatkan sebagai sumber dukungan emosional, namun tetap diarahkan agar tidak memperkuat rasa takut anak.

Minisimposium ini menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan anak yang tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan kondisi mental dan emosional pasien kecilnya.

Tenaga kesehatan anak yang efektif bukan hanya terampil secara klinis, tetapi juga sensitif terhadap aspek psikologis pasien kecilnya. Empati, kesabaran, dan komunikasi yang sesuai usia adalah dasar pembentukan trust antara perawat, anak, dan keluarga,” terangnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada peserta serta dokumentasi sebagai bagian dari penguatan kapasitas SDM di lingkungan RSUD Kabupaten Jombang.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar