Kemarau Kian Parah, Giliran Jipurapah Jombang Dilanda Krisis Air Bersih

warga mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih. (Ilustrasi AI)
  • Whatsapp

PLANDAAN, Kabar Jombang.com– Krisis air bersih di Kabupaten Jombang bertambah dengan masuknya Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, dalam daftar wilayah terdampak. Sebanyak 1.140 jiwa dari 400 kepala keluarga (KK) di desa tersebut mengalami kesulitan air bersih akibat penurunan debit sumur saat kemarau panjang, sementara fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tidak dapat digunakan selama sekitar empat bulan.

Sebelumnya, krisis air bersih juga terjadi di Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, dan Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang kini tengah menyiapkan penyaluran bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di Desa Jipurapah.

Baca Juga

Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Dias Quintas, melalui Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria, membenarkan adanya penambahan lokasi krisis air bersih tersebut.

“Jadi memang info terakhir ada tambahan titik krisis air lagi, yakni di Desa Jipurapah, jadi yang butuh dropping sementara dua titik ini,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).

Data BPBD Jombang mencatat, warga terdampak tersebar di Dusun Jipurapah dan Dusun Brangkal. Di Dusun Jipurapah, terdapat 200 KK atau 540 jiwa yang mengalami dampak kekurangan air. Sementara itu, Dusun Brangkal mencatat 200 KK atau 600 jiwa terdampak.

Stevy Maria mengungkapkan Krisis air bersih tersebut berdampak pada lingkungan pendidikan. SDN Jipurapah 1 memiliki 94 siswa, sedangkan SMP Negeri 3 Plandaan tercatat memiliki 53 siswa.

“Kondisi ini juga berdampak pada fasilitas pendidikan, yakni SDN Jipurapah 1 dengan 94 siswa dan SMP Negeri 3 Plandaan dengan 53 siswa,” ucap Pepi sapaan akrabnya.

BPBD Jombang menjadwalkan pengiriman bantuan air bersih ke Desa Kebondalem pada Jumat (23/10/2026). Penyaluran ke Jipurapah direncanakan menyusul pada Sabtu (24/10/2026).

“Untuk Jumat (23/10/2026) ini, kami jadwalkan pengiriman ke Kebondalem. Mungkin Jipurapah dimulai besok,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jipurapah, Hadi Sucipto, menjelaskan kesulitan air bersih mulai dirasakan masyarakat dalam sepekan terakhir. Penurunan ketersediaan air terjadi pada sumur-sumur milik warga yang selama ini menjadi salah satu sumber pemenuhan kebutuhan rumah tangga, selain Pamsimas.

“Kalau musim kemarau panjang, sumber airnya berkurang. Air yang keluar dari sumur rumah warga sekarang hanya sedikit,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak berfungsinya Pamsimas membuat warga semakin kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Fasilitas tersebut mengalami kerusakan pada pompa submersible atau sibel sekitar empat bulan lalu. Kerusakan itu menyebabkan pompa tidak lagi mampu mengangkat air dari sumbernya.

“Pamsimas-nya sudah rusak sekitar empat bulan. Sibel-nya tidak bisa mengangkat air,” katanya.

Hadi mengatakan, pemerintah desa telah menyampaikan laporan kerusakan tersebut kepada Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Jombang. Petugas dari dinas terkait juga telah melakukan pemeriksaan dan membawa pompa untuk ditangani. Namun, sampai saat ini pompa tersebut belum dikembalikan sehingga fasilitas Pamsimas belum kembali beroperasi.

Dalam kondisi tersebut, warga harus mengandalkan sumur pribadi meskipun debit airnya terus berkurang. Hadi menyebut situasi ini berbeda dengan tahun sebelumnya, ketika Pamsimas masih berfungsi normal dan masyarakat tidak mengalami kesulitan air bersih.

Adapun di dua wilayah yang lebih dahulu mengalami krisis air, persoalan yang dihadapi berbeda. Di Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, kekurangan air berkaitan dengan menyusutnya debit sumur warga di tengah operasional irigasi perpompaan (Irpom). Sementara di Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, krisis air bersih terjadi ketika fasilitas Pamsimas setempat tidak berfungsi.

Berita Terkait