JOMBANG,KabarJombang.com- Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Jombang menyiapkan laporan kepada Kantor Wilayah (Kanwil) terkait persoalan tiket kepulangan jemaah umrah PT Annisa Ahmada Travelindo ITS Grup yang tak kunjung diterbitkan. Selain membuat laporan, Kemenhaj menyebut pihak travel dapat dikenai tahapan sanksi hingga pembekuan izin operasional.
Laporan tersebut akan disampaikan kepada Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Haji dan Umrah untuk menjadi bahan tindak lanjut di tingkat pusat.
Kepala Kemenhaj Kabupaten Jombang, Ilham Rohim, mengatakan berita acara tersebut akan disampaikan kepada Kanwil sebagai laporan. Sementara penanganan lebih lanjut terhadap pihak travel akan diserahkan kepada Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
“Nanti menjadi catatan. Berita acara yang kami buat kami sampaikan kepada pimpinan, yaitu kepada Kanwil sebagai laporan. Untuk tindak lanjut diserahkan kepada pusat di Kementerian Haji dan Umrah,” jelasnya, Kamis (17/9/2026).
Langkah Kemenhaj tersebut dilakukan setelah sejumlah jemaah umrah terpaksa mengupayakan tiket kepulangan secara mandiri karena tiket yang dijanjikan pihak travel belum diterbitkan.
Sebanyak 83 jemaah asal Jombang dilaporkan mengalami persoalan serupa. Sebanyak 54 jemaah dari Madinah telah diterbangkan ke Indonesia, sedangkan 29 jemaah dari Makkah dijadwalkan menyusul. Biaya tiket mandiri disebut mencapai sekitar Rp7,2 juta per orang.
Persoalan tersebut juga dialami sekitar 30 jemaah asal Mojowarno. Mereka dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 16 September 2026 pukul 23.00 waktu Arab Saudi. Namun, tiket kepulangan belum diterbitkan sehingga jemaah berencana membeli tiket sendiri.
Salah satu keluarga jemaah, GA, warga kecamatan Mojowarno, Jombang, mengatakan biaya tiket dan transportasi diperkirakan mencapai Rp9 juta per orang, meskipun kepulangan sebelumnya telah termasuk dalam paket perjalanan umrah.
“Dari awal tiket belum diberikan. Kami juga kesulitan menghubungi pihak travel,” ujarnya.
Kemenhaj Jombang mengaku mengalami kesulitan berkomunikasi dengan pihak travel sejak 12 September 2026. Upaya mendatangi kantor travel di Jombang dan Mojokerto juga belum menghasilkan penyelesaian yang jelas.
Sementara itu, pihak travel sebelumnya menyampaikan bahwa dana sekitar Rp15 miliar telah ditransfer kepada agen tiket. Namun, tiket kepulangan jemaah belum juga diterbitkan.
Terkait penanganan pihak travel, Ilham menyebut terdapat sejumlah tahapan yang dapat diterapkan, mulai dari pemberian peringatan hingga pembekuan izin operasional.
“Ada tahapan peringatan, ada tahapan pemanggilan, ada tahapan sampai nanti pembekuan izin operasional,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Kepastian tiket kepulangan jemaah umrah juga dialami oleh jamaah KBIHU Muslimat NU Jombang yang tergabung dalam kloter terakhir hingga Selasa (15/9/2026) diduga masih belum jelas. Kondisi tersebut membuat keluarga jemaah khawatir, terlebih kepulangan kloter terakhir dijadwalkan berlangsung pada Rabu (16/9/2026).
Dari total 192 jemaah, kepulangan dilakukan secara bertahap dalam tiga kloter. Kloter pertama dan sebagian jemaah kloter kedua telah kembali ke Jombang, sementara sebagian lainnya masih berada di Arab Saudi. Adapun tiket kepulangan kloter terakhir hingga kini disebut diduga belum diterbitkan.
Salah satu anggota keluarga jemaah kloter ketiga berinisial NAD, warga Megaluh, Jombang, menyebut kepulangan kloter ketiga dijadwalkan, Rabu (16/9/2026). Sementara itu, masih terdapat 26 jemaah yang seharusnya tergabung dalam kepulangan kloter kedua, Sabtu (12/9/2026), tetapi hingga kini disebut belum kembali.
“Harusnya besok untuk yang kloter 3, yang kloter 2 tanggal 12 September kemarin,” ungkapnya.








