Foto: Senawi ketika sedang membantu istrinya yakni Sundana. Ia terlihat meracik kopi hitam untuk memenuhi pesanan kopi dari para pembeli. (Wahyu/Kabar Jombang).
PETERONGAN, KabarJombang.com – Sebuah warung sederhana bernamakan warung viral di Desa Sumberagung, Kecamatan Peterongan, Jombang, menjadi sorotan karena masih menjual kopi murni seharga Rp 500 per gelas.
Menjamurnya kafe modern dengan harga minuman kopi belasan hingga puluhan ribu rupiah, keberadaan warung ini bukan hanya unik, tetapi juga mencerminkan tradisi sosial yang telah mengakar.
Sejak berdiri pada tahun 1992, warung turun temurun yang saat ini dikelola oleh Sundana (68) tidak pernah sepi pengunjung. Menariknya, pelanggan datang bukan hanya dari sekitar Peterongan dan Jombang, melainkan juga dari Mojokerto, Sidoarjo, hingga Gresik.
Mereka duduk lesehan atau di kursi kayu sederhana, bercakap santai sembari menyeruput kopi hitam murni. Bagi para pelanggan, kopi murah bukan sekadar minuman, melainkan ruang untuk menjaga keakraban.
“Dulu ibu saya menjual kopi Rp300 pada tahun 1995. Sekarang hanya saya naikkan Rp200, jadi Rp500 per gelas kecil, gelas sedang harga minuman kopi menjadi Rp1.000. Kalau terlalu mahal, orang desa jadi berat. Saya ingin semua orang bisa minum kopi di sini,” kata Sundana.
Tidak jarang pembeli baru terkejut dengan harga yang sangat murah. Namun warung ini tetap bertahan. Meski keuntungan per hari hanya sekitar Rp 30.000, Sundana tidak khawatir.
“Kalau dihitung memang tidak masuk akal, tapi Alhamdulillah rezeki ada saja. Selain kopi, saya juga menjual rujak petis Rp3.000 per porsi dan es cincau Rp1000,” tambahnya.
Dalam aktivitas sehari-hari, Sundana dibantu sang suami, Senawi. Sejak pagi hingga terkadang sampai malam, keduanya setia melayani pesanan pelanggan.
“Saya hanya bisa mendukung keputusan istri. Yang penting, pembeli senang dan warung tetap hidup,” ujarnya.
Fenomena kopi Rp500 di Kecamatan Peterongan menegaskan bagaimana habitus bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan yang diwariskan keluarga membentuk pola tindakan yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan menekankan nilai kebersamaan, solidaritas sosial, dan keterjangkauan.
Warung kopi murah di Peterongan bukan sekadar tempat ngopi, melainkan simbol inklusivitas (keberagaman) di ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang status. Di tengah arus modernisasi saat ini, menjadi bukti bahwa identitas sosial masyarakat Jombang masih terjaga melalui secangkir kopi murah milik Sundana.
Leave a Comment