Travel & Kuliner

Lomba Kreasi Jajanan Polo Pendem Warnai Hari Jadi ke-115 Kabupaten Jombang, Hasilnya Bikin Ngiler

JOMBANG, KabarJombang.com — Suasana Alun-alun Jombang pagi ini tampak semarak dengan digelarnya Lomba Kreasi Jajanan Polo Pendem dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-115 Pemerintah Kabupaten Jombang. Acara ini diikuti oleh 42 peserta yang terdiri dari perwakilan 21 kecamatan dan 21 pelaku UMKM kuliner yang tergabung dalam asosiasi makanan dan minuman se-Kabupaten Jombang.

Ketua Panitia, Didik Tondosusilo, menyampaikan bahwa lomba ini digelar sebagai upaya menggairahkan kembali semangat masyarakat untuk membudidayakan tanaman jenis polo pendem, yakni tanaman yang buahnya tumbuh di dalam tanah seperti umbi-umbian yang layak konsumsi.

“Kami ingin mendorong kemandirian pangan non-beras. Saat ini, tanaman polo pendem sudah jarang dibudidayakan di desa-desa. Melalui lomba ini, kami berharap pelaku UMKM bisa menciptakan kreasi makanan yang menarik dari bahan dasar polo pendem, sehingga masyarakat kembali terdorong untuk menanamnya,” ujar Didik.

Melalui lomba ini, Pemerintah Kabupaten Jombang berharap agar semangat menanam polo pendem dapat tumbuh kembali di masyarakat pedesaan, serta dapat meningkatkan nilai ekonomis dari bahan-bahan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian.

“Ini bukan hanya soal lomba makanan, tapi juga gerakan untuk mengembalikan kejayaan hasil bumi lokal. Harapannya, UMKM bisa menjadi motor penggerak kemandirian pangan dan pelestarian tanaman khas daerah,” tutup Didik Tondosusilo.

Salah satu peserta, Ani Sukiati atau akrab disapa Bu Ganda asal Kecamatan Wonosalam, menghadirkan menu menarik bertajuk Brulee Tanecang. Hidangan ini terinspirasi dari dessert khas Prancis dengan ciri khas lapisan karamel yang dibakar hingga renyah, namun menggunakan bahan lokal dari jenis polo pendem.

“Biasanya brulee memakai cookies atau biskuit, tapi kami ganti menggunakan talas bening dan kacang tanah sebagai bahan utama. Ini khas Wonosalam, tapi sayangnya belum punya nilai jual tinggi. Lewat kreasi ini, kami ingin mengangkat potensi hasil bumi lokal,” terang Ganda.

Dalam proses pembuatannya, Ganda menghindari penggunaan tepung-tepungan umum seperti tepung terigu, ketan, dan beras. Ia hanya memakai sedikit tepung maizena di bawah batas maksimal 30 persen sesuai ketentuan lomba. Jenis polo pendem yang digunakan juga dibatasi hanya dua jenis, dan ia memilih talas bening dan kacang tanah.

Pantauan di lokasi para peserta menampilkan berbagai macam variasi menu makanan, minuman dan jajanan. Mulai dari bakpia, aneka kue basah, cookies, gorengan, minuman, kerupuk, brownies, puding, dll.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar