Ternyata, Soto Lamongan Bukan Frasa Sembarangan

kuliner
Warung soto ayam lamongan milik Setiardi di Blimbing, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. (Foto : Diana Kusuma Negara)
  • Whatsapp

GUDO, KabarJombang.com – Kata Lamongan di spanduk atau papan nama warung soto, bukan embel-embel. Soto Lamongan. Kata Lamongan di belakang kata Soto itu sakral bagi para penjual nasi soto, yang karena itu mereka menjaga, menghargai dan melestarikannya.

“Tidak sembarangan ditulis. Penjual Soto Daging Lamongan, Soto Ayam Lamongan, memang asli dari daerah Lamongan,” terang Setiardi (63) penjual Soto Ayam Lamongan, pada Sabtu (12/9/2020).

Baca Juga

Lansia yang membuka warung di Dusun Tawang, Desa Blimbing, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, itu mengatakan, penjual soto berlabel Lamongan memiliki peguyuban yang memiliki kontrol kuat terhadap anggota dan siapa saja melabelkan kata Lamongan di dagangan sotonya.

Setiap kali ada warung yang berlabel Lamongan, jelas suami Fatimah (61) itu, petugas dari paguyuban dipastikan akan mendatangi dan mengonfirmasi asal usul penjual dan resep makanan yang ditawarkan.

“Jadi memang benar-benar akan ditanya asli lamongan atau tidak. Selain itu dari rasanya sesuai enggak sama rasa ciri masakannya. Kalau enggak sesuai pasti enggak boleh pakai nama Lamongan. Spanduk atan papan nama harus diturunkan,” tutur pria asal Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan itu.

Setiardi bersama istrinya saat ini setiap hari membuka warungnya hanya 4 jam, mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. “Terpaksa dibatasi sampai jam 10 pagi, karena memang terbatas tenaganya. Itu pun biasanya sudah terjual sampai 80 porsi,” pungkasnya.

Soto olahan Setiardi tentu saja disuguhkan secara khas Lamongan. Kuah dan irisan daging ayam yang sedap, semakin menggoda dengan taburan topping seladri dan koya di atasnya. Tidak mahal, seporsi dibandrol hanya Rp 10 ribu.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait