Tangkal Covid-19, Isak Tangis Iringi Kedatangan Santri Baru Ponpes Tebuireng

Suasana penyambutan santri Tebuireng Jombang. (Foto; Solid).
  • Whatsapp

JOMBANG, FaktualNews.co – Suasana haru terlihat saat sebanyak 1.389 santri baru, Senin (31/8/2020) datang di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Pasalnya, santri yang diantar orang tuanya itu harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari ke depan.

Para santri tersebut akan menjalani program karantina sebelum diperkenankan memasuki asrama Pesantren Tebuireng dan mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Baca Juga

Menurut salah satu pengurus Pesantren Tebuireng,  Dana Iswari Maghfiroh, suasana haru ini dikarenakan antisipasi Covid-19. Para wali santri hanya boleh mengantar sampai gerbang tempat karantina.

Tahun sebelumnya, wali santri diperkenakan mendampingi anaknya hingga ke kamar dan menyerahkan ke pembina kamar. Bahkan sebagian ada yang menginap di sekitar pesantren hingga anaknya betah.

Walisantri hanya bisa melihat putra putrinya dibawa pengurus pesantren ke tempat karantina dari jauh sambil meneteskan air mata. Tak hanya ibu-ibu yang menangis, para bapak juga tampak meneteskan air mata saat melepas anak mereka.

“Pesantren Tebuireng sangat ketat dalam menyambut santri sesuai protokol kesehatan. Sebagai orang tua pasti sangat berat hati. Banyak yang menangis. Ada yang bertanya-tanya makan anaknya gimana, bajunya gimana, dan mandinya gimana?,” katanya Senin (31/8/2020).

Santri yang datang gelombang kedua ini adalah santri baru yang telah lolos seleksi penerimaan pada akhir Desember 2019 dan awal tahun 2020 lalu. Mereka datang sesuai jadwal yang ditetapkan pengurus pesantren.

Santri baru tersebut dikarantina dalam beberapa lokasi terpisah. Antara lain di kampus B dan C Universitas Hasyim Asy’ari, kampus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, kompleks MTs, SMP, dan SMA. Serta di kompleks Pesantren Sains Tebuireng 2 di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

“Tebuireng menyiapkan segala keperluan dan hiruk pikuk protokoler kesehatan dengan tidak melupakan kenyamanan santri pas karantina. Ini yang bikin orang tua lega, dan percaya,” imbuhnya.

Sementara itu, juru bicara gugus tugas Pesantren Tangguh Tebuireng, Nur Hidayat menjelaskan pihaknya tetap memberlakukan rapid test sebagai persyaratan.

Bahkan dua minggu sebelum kembali kepesantren, para santri diwajibkan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.

“Dokumen rapid test tetap kami syaratkan sebagai instrumen penapisan awal. Alhamdulillah, kesadaran para calon santri dan wali santri cukup tinggi,” ungkapnya.

Hidayat menjelaskan beberapa hasil rapid test santri baru ini ada yang reaktif. Untungnya para wali santri terbuka dan komunikasi terus ke pengurus pesantren.

Untuk kasus seperti itu, Gugus Tugas Pesantren menyarankan agar mereka tinggal di rumah dulu sementara waktu dan menunggu jadwal gelombang berikutnya.

Dikatakan Nur Hidayat, ada juga wali santri yang sangat antusias untuk memberangkatkan anaknya ke pondok. Sampai melakukan uji swab karena hasil rapid test anaknya reaktif.

“Setelah dilakukan uji swab, ternyata negatif Covid-19. Jadi yang bersangkutan diperkenankan berangkat ke pondok,” tutupnya.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait