Tak Ada Jembatan, Perahu Tambang di Kesamben Masih Laris Manis

Salah satu perahu tambang di Sungai Brantas, yang menyeberangkan orang dan barang dari tepian sungai hingga tepian sungai di seberang.
  • Whatsapp

KESAMBEN, KabarJombang.com – Perkembangan zaman membuat banyak perubahan, termasuk transportasi. Namun, tidak untuk jasa tambangan (penyeberangan) perahu di Sungai Brantas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Jasa penyeberang tersebut, menghubungkan dua kabupaten, yakni Jombang dan Mojokerto. Menyeberangi dua sisi Sungai Brantas, tambangan ini menjadi salah satu transportasi yang masih eksis karena dibutuhkan masyarakat.

Baca Juga

Saiman, salah satu pengemudi perahu tambangan, menuturkan, jasa penyeberangan ini masih tetap beroperasi. “Masih terus berjalan Mas, kerjanya 24 jam,” ucapnya, Kamis (31/10/2019)

Pria 62 tahun tersebut, menyebut, jasa penyeberangan ini beroperasi mulai pukul 11.00 WIB sampai pukul 02.00 WIB alias dinihari.

Saiman tidak sendiri, melainkan bersama satu orang lainnya. Mereka mengantarkan atau menyeberangkan para penumpang untuk sampai ke tujuan. Dari satu sisi Sungai Brantasi ke sisi lainnya.

Saiman mengaku, sudah menggeluti pekerjaan ini sekitar lebih delapan tahun. Hasilnya untuk memberi nafkah kepada keluarga.

“Sudah terbiasa, jadi tidak ada khawatir sama sekali, sudah rezekinya di sini, hasilnya untuk keluarga,” ujarnya, ketika disinggung kemungkinan jasa penyeberangan perahu bakal tidak laku.

Jasa penyeberangan memanfaatkan sampan atau perahu sebagai alat transportasi.

Milik Saiman terbuat dari kayu ukuran 16 x 2 meter, bisa menampung lebih dari 10 sepeda motor, dengan hanya memakan waktu 40 detik untuk sampai ke tujuan.

Dalam satu hari, Saiman rata-rata menyeberangkan sekitar 30 unit motor dan 30-40 penumpangnya.

Saiman mengatakan, selain motor roda dua, perahu Saiman juga bisa mengangkut motor gerobak roda tiga. “Bisa sepeda motor, b isa juga motor roda tiga semacam Tosa,” ujar pria 5 anak tersebut.

Jika ingin menyeberang, tarif yang dikeluarkan tidak mahal, cukup membayar Rp 3.000 untuk satu sepeda motor dan Rp 5.000 untuk satu motor roda tiga.

Sedangkan, bagi para pelajar yang menyeberang tidak dikenakan biaya sepeserpun oleh Saiman.

Saiman mengaku, penghasilannya tiap hari memang tidak tentu, tapi bisa untuk menghidupi keluarga. “Bahkan sering ada kelebihan untuk ditabung,” tuturnya.

Bismo Wibowo, seorang penumpang, mengaku sangat terbantu dengan jasa tambangan ini.

“Sangat terbantu karena lebih cepat sampai tujuan. Kalau lewat jembatan harus memutar. Tidak masalah melewati desa yang penting cepat sampai,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, transportasi yang terbilang klasik ini, harus tetap diberdayakan.

“Harus tetap ada kalau menurut saya, karena ada warga yang menggantungkan hidup dari jasa penyeberangan ini,” tambah pria asal Kabupaten Mojokerto ini.

 

 

 

Penulis : Anggit Puji Widodo
Editor : Sutono Abdillah

[wbcr_php_snippet id="kabarjombang"]

Berita Terkait