by

Suami Bayangan Istriku

Oleh: Aan Ari Hidayat

Meski pernikahan kami sudah memasuki usia yang bisa dianggap matang. Namun kondisi keharmonisan tidak bisa hilang. Istriku seorang wanita Jawa yang tidak meninggalkan sisi kelembutan sebagaimana wanita jawa timur pada umunya. Sikapya yang lembut, kadang bisa membuat lelahku hilang sesaat dia menyapaku dalam suaranya yang lirih dan merdu.

Namun, di waktu terakhir sifat keibuannya sedikit dilupakan, saat dirinya sibuk mengurusi kesibukan rumah tangga kami. Awalnya diriku menyadari bahwa pekerjaan rumah tak begitu mudah diselesaikan begitu saja. Saat satu pekerjaan selesai, tumbuh pekerjaan yang lain lagi. Hal itulah yang membuatku memaklumi kondisi kelembutan istriku yang sedikit mulai memudar.

Hingga beberapa waktu lalu diriku tercengang saat melihat isi pesan singkat yang ada di telepon genggam istriku. Meski selama ini kita sebagai keluarga kecil yang saling terbuka, ternyata hal itu membuatku membebaskan hal apapun yang dilakukan istriku. Sampai akhirnya pada malam aku pulang kerja istriku tak menyambutku seperti biasanya.

“Umi, abi pulang!!,” ucapku saat aku sampai di depan pintu rumah. Namun hingga beberapa menit istriku yang biasanya membalas apa yang aku ucapkan, belum juga membalas sapaanku. Hingga akhirnya aku memasuki kamar kami berdua.

“Kok umi nggak jawab sapaan Abi ??,” tanyaku pada sang istri.
“Maaf Abi, Umi tak mendengar suara Abi!!!,” jawab istriku sambil meletakkan telepon genggamnya di bawah bantal tempat tidur secara tergesa-gesa.

Diriku yang tak curiga dengan sifat aneh yang dilakukan istriku, lalu melepas semua pakaian kerjaku.

“Abi kok cepat pulangnya?,” tanya istriku sambil menyiapkan segelas teh panas, sebagai minuman wajibku saat pulang kerja.
“Iya umi, Abi lagi gak enak badan, jadinya pulang agak sore”.
“Umi belikan obat ya bi!!,” tawaran istriku dengan suaranya yang lembut.
“Nggak usah mi, abi tak istirahat saja!!,” jawabku sambil membaringkan badan di tempat tidur kami berdua.

Istriku yang paham akan kondisiku akhirnya membiarkanku terbaring dan tertidur di kamar. Aku yang tertidur pulas dari sore hingga tengah malam, akhirnya terbangun karena rasa haus yang membuat tubuhku yang lemah terpaksa berdiri sendiri untuk mencari segelas air putih.

Tak lama kemudian diriku yang merasa haus lalu mengambil air yang ada di dapur. Namun rasa penasaran akan sikap istriku saat aku pulang, tiba-tiba muncul dalam benakku. Akhirnya untuk menghilangkan rasa itu, aku mencoba untuk melihat apa yang ada di dalam isi handphone (HP) istriku, saat istriku terlelap dalam tidurnya. Dengan pelan-pelan aku mengambil HP yang masih dalam genggaman wanita yang setia bersamaku selama 10 tahun.

Srek, suara tubuh istriku yang ingin membalikkan badannya.

Meski begitu, diriku berhasil mengambil HP istriku yang sudah bermimpi dalam tidurnya. Rasa penasaranku semakin terasa begitu dalam, saat aku mulai melihat isi percakapan yang ada dalam HP istriku, Rika. Satu persatu percakapan aku lihat dari isi HP yang aku belikan dari hasil keringatku sendiri. Mataku mulai memerah dan keringatku mulai mengucur saat aku membaca satu percakapan antara istriku Rika dengan Rita, salah satu teman percakannya dalam SMS. Rasa emosiku tak tertahan saat membaca salah satu percakapan mesra si temannya dalam HP yang mengajak istriku untuk bercinta.

“Sayang nanti kalau kita ketemu kita bercinta ya”. Kurang lebih itu isi SMS yang aku baca dalam hati.

Mataku yang mulai ingin lepas dari kelopak dan tak kuat menahan ledakan emosi saat tahu hal itu. Diriku lalu membangunkan Rika, istriku yang tertidur lelap.

“Mi bangun, Abi mau ngomong!!,” Sambil kuelus kening Rika istriku dengan menahan rasa emosiku.

“Ya abi ada apa, kok malam-malam Umi dibangunkan??,” jawab istriku sambil mengusap matanya yang sudah terlelap dalam tdurnya.
“Abi mau tanya, siapa Rita yang ada dalam percakapanmu di HP??,” tanyaku sambil menunjukan isi percakapan tersebut.

Istriku yang menunjukkan wajah khawatir semakin membuatku emosi. Namun aku masih menahannya.
“Itu temanku Abi!!,” jawab istriku.
“Teman, kok percakapannya panggil-panggil sayang??,” tanyaku membantah.
“Iya Abi itu hanya teman,” bantah Istriku.
“Jujur saja mi, Abi tidak apa-apa,” jawabku yang masih menunjukan rasa sabarku.
“Maafin Umi, Abi… Umi khilaf,” jawab istriku sambil memelukku dengan meneteskan air matanya.
“Maafkan ya Bi.., maafkan Umi…!!!,” pinta istriku merengek-rengek untuk kumaafkan, meski diriku masih diam dan belum mengetahui permasalahan sepenuhnya.
“Maafkan apa….?? Apa yang harus Abi maafkan..!!,” jawabku dengan air mata yang mulai mengalir dari pojok mataku dan menerjang pipiku. Namun pelukan erat istriku Rika tetap terasa hingga waktu 30 menit, sambil ada perdebatan dalam hati kita masing-masing.

Tak lama kemudian, istriku yang masih memelukku berbicara dengan menunjukkan rasa penyesalan.
“Kalau Abi memaafkan Umi, Umi akan cerita semuanya Bi….,” minta istriku.
“Iya Abi akan memaafkan Umi, asal Umi jelaskan semua tentang SMS Umi dengan Rita.. !!!,” jawabku sambil kulepaskan pelukan erat istriku.
Sretttttt srettttt… suara usapan dan tarikan nafas kami berdua, karena hidung dan dada yang penuh sesak karena perdebatan hebat. Tak lama kemudian, istriku mulai berbicara tentang SMS yang membuatku hampir saja khilaf.

“Itu memang kekasihku dulu Abi..!!!,” jawab istriku sambil memelukku lagi dan menangis terseguk-seguk.
Mendengar jawaban istriku, diriku langsung melepaskan pelukan istri dengan sedikit kekuatan.
“.. Kenapa Umi seperti itu..?? Apa Salah Abi.???? Selama ini aku pulang malam untuk kehidupan kita berdua. Tapi kenapa Umi seperti ini…!!!!,” bantahanku dengan suara keras. Sebab tak kuat menahan rasa emosi yang mulai naik di kepala.
“…Iya Abi, Umi minta maaf.. ini memang salah Umi..!!!,” teriak istriku dengan meneteskan air matanya.
“Tapi Rita itu perempuan…???,” jawab istriku dengan menunjukan wajah tertunduk seakan menunjukkan rasa malunya.
“… Lho, Rita itu bukan nama laki-laki yang kamu samarkan????” tanyaku sambil memegang kedua pundak istrikku.
“Bukan Abi… Rita itu perempuan, bukan laki-laki..!!!,” jawabnya.
Rasa heranku semakin bergejolak di dalam hati yang bercampur emosi. “Tapi kenapa Umi sayang – sayangan dengan dia..????,” tanyaku dengan nada keras.
“Dia itu masa laluku yang datang kembali Abi..!!!,” jawab istriku sambil duduk di sebelah tempat tdur kami.
“Umi dulu pernah khilaf dengan mencintai sesama perempuan. Namun karena kasih sayang Abi saat ingin meminangku membuat diriku sadar bahwa sudah waktunya diriku untuk sadar. Bahwa takdirku adalah dicintai oleh laki-laki bukan perempuan,” jawab Rika istriku.

Mendengar jawaban tersebut emosiku mulai mereda. Namun, rasa terkejutku semakin membuat tanganku yang terlihat berotot mulai gemetar. Namun diriku tetap membiarkan istriku berbicara.
“Tapi beberapa minggu ini dia (Rita) datang kembali padaku. Akupun hanya mengikuti apa yang dia ingin bicarakan. Karena aku takut dia akan berbuat macam-macam pada keluarga kecil kita..,” jawab istriku dengan tersengguk-sengguk.
“Jadi maafkan atas kekhilafanku Abi..!!!,” sesalnya.

Diriku yang kaget atas jawaban istriku lalu keluar dengan tergesa-gesa dan kupakai celana dan juga jaket yang kulepas sore tadi.
“Abi mau keluar bentar!!!!,” Bicaraku sambil kutinggalkan kamar.
“Abii… Abi.. Abi!!,” panggil Rika istriku.
Namun tak kuhiraukan. Kuambil kunci motor yang ada di meja lalu kutancap gas sekencang mungkin dan berharap istriku tak mengejarku.

Rasa bingung, sedih, bercampur emosi membuatku tak tahu akan menuju kemana disaat orang – orang lain sedang terlelap dalam tidurnya. Hingga akhirnya aku tiba di tempat parkir motor yang setiap hari kutitipkan motorku dan aku melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus jurusan Kota Pahlawan.

Di dalam bus, diriku masih tak sadar apa yang aku pikirkan dan kemana tempat yang aku tuju. Diriku hanya diam dan melihat keluar kaca bis dengan pikiran yang tak jelas.
“Mas.. Mas.. udah sampe..,” Bisikan kecil kondektur bus.
“Lo sampe mana mas..??,” jawabku.
“Ini sudah di terminal mas,” jawab si kondektur bus.

Diriku yang setengah sadar dan turun dari bus. Lalu duduk di pinggir trotoar terminal.
“Hai Andik, ngapain kamu disini..!!!,” sapa seseorang yang belum kulihat raut wajahnya.
“Gak ngapa-ngapain..,” jawabku sambil melihat orang yang menyapaku.
“Aku Rico, temanmu dulu…”
“Iya rico.. Aku ada masalah jadi harus seperti ini..!!,” jawabku padanya.
“Ya sudah, ayo ikut aku ke rumahku..” ajak Rico
“Iya…,” jawabku singkat.

Hingaa saat ini, diriku masih menenangkan pikiranku terhadap apa yang aku alami dalam keluarga kecilku. Dan tak tahu bagaimana kabar istriku di dalam rumah kecil kami. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *