Seniman Pelukis Pasir Jombang, Mohammad Akhyak. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com– Seniman Jombang Mohammad Akhyak mengingatkan agar karnaval budaya dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI tidak sekadar menjadi ajang hiburan. Menurutnya, karnaval perlu mengangkat sejarah dan kekayaan budaya Nusantara agar dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Akhyak yang dikenal sebagai Pelukis Pasir Jombang menilai penggunaan musik modern, tata cahaya, multimedia, hingga konsep pertunjukan kekinian merupakan bentuk kreativitas yang positif. Namun, inovasi tersebut tidak boleh membuat identitas budaya tersisih.
“Modernitas tidak boleh menghapus identitas. Kemajuan tidak boleh membuat kita lupa siapa diri kita,” ucapnya, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, istilah “karnaval budaya” memiliki konsekuensi terhadap materi yang ditampilkan. Budaya harus menjadi unsur utama, bukan sekadar pelengkap. Pakaian adat, tarian tradisional, tokoh perjuangan, rumah adat, alat musik, permainan rakyat, batik, tenun, hingga cerita sejarah dan kepahlawanan dapat dihadirkan dalam pertunjukan.
“Mereka bisa mengenal pakaian adat, tarian tradisional, tokoh perjuangan, rumah adat, alat musik tradisional, permainan rakyat, batik, tenun, hingga cerita sejarah dan kepahlawanan,” ucapnya.
Akhyak mengenang karnaval pada masa lalu yang banyak mengangkat perjuangan kemerdekaan dan kekayaan budaya daerah. Peserta memerankan tokoh perjuangan, petani, nelayan, hingga rakyat biasa, sementara miniatur candi, gunungan hasil bumi, rumah adat, dan kesenian daerah turut ditampilkan.
Menurutnya, konsep tersebut mampu memunculkan rasa ingin tahu anak-anak. Mereka kemudian bertanya kepada orang tua mengenai pakaian adat, tarian, maupun kisah perjuangan yang ditampilkan. Bagi Akhyak, munculnya pertanyaan itu merupakan salah satu keberhasilan karnaval karena menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan tradisi.
Selain muatan budaya, Akhyak mengingatkan penyelenggara agar memperhatikan kenyamanan warga di sepanjang rute. Ruang publik yang digunakan untuk karnaval juga diakses bayi, lansia, anak-anak, hingga warga yang sedang sakit.
“Kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang kebebasan berekspresi. Kemerdekaan juga mengajarkan penghormatan kepada hak orang lain,” pesannya.
Akhyak mendorong keterlibatan seniman daerah, sanggar tari, kelompok karawitan, komunitas pencak silat, pelaku UMKM, serta komunitas budaya dalam karnaval di Jombang. Tema perjuangan kemerdekaan, sejarah desa, legenda lokal, permainan tradisional, batik, tenun, hasil bumi, kerajinan, hingga kendaraan hias bertema pendidikan dan budaya dinilai dapat memperkaya pertunjukan.
Ia menegaskan, pandangan tersebut bukan untuk menyalahkan panitia maupun generasi muda. Sebaliknya, kreativitas anak muda perlu diberi ruang dan diarahkan untuk memperkuat identitas budaya.
Akhyak berharap karnaval kemerdekaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan kreativitas generasi muda dengan warisan budaya lokal. Menurutnya, kemeriahan karnaval hanya berlangsung sesaat, sedangkan nilai pendidikan dan kecintaan terhadap budaya dapat menjadi investasi jangka panjang bagi generasi penerus.
“Masyarakat yang datang menyaksikan diharapkan dapat menikmati seni, mengenal sejarah, memahami tradisi, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak pemerintah, panitia, tokoh masyarakat, seniman, pemuda, dan warga bersama-sama mengevaluasi konsep karnaval budaya.
“Harapannya, setiap perayaan kemerdekaan tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan budaya,” tegasnya.
Leave a Comment