Arif Yulianto saat berkunjung ke rumah keluarga Ibu Bung Karno di Bale Agung, Buleleng, Bali tahun 2024. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com – Pemerhati sejarah asal Jombang, Arif Yulianto atau yang akrab disapa Cak Arif, mengungkapkan kisah panjang penelusurannya terkait sejarah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Penelitian tersebut telah ia lakukan selama hampir sepuluh tahun terakhir.
Menurut Cak Arif, penelusuran ini bermula dari pertemuannya dengan seorang peneliti independen sejarah Panji, Semar Suwito, yang kini telah wafat. Keduanya pertama kali bertemu dalam sebuah kegiatan di Banjarnegara, Jawa Tengah pada 2015.
Sejak perkenalan tersebut, komunikasi keduanya terus terjalin melalui telepon. Pada sekitar 2016, Semar Suwito mengajak Cak Arif berkunjung ke Ndalem Pojok di wilayah Wates, Kediri, untuk menghadiri sebuah acara kebudayaan.
“Dari Pak Semar saya pertama kali dikenalkan dengan Ndalem Pojok,” ujar Cak Arif, Sabtu (7/3/2026).
Sejak saat itu, ia semakin sering datang ke tempat yang dikenal sebagai Situs Persada Soekarno tersebut. Bahkan, beberapa kali ia menginap di lokasi yang diyakini berkaitan dengan masa muda Bung Karno.
“Saya pernah beberapa kali diizinkan menginap di kamar yang dulu ditempati Bung Karno saat remaja oleh keluarga Ndalem Pojok,” tuturnya.
Pada 2019, Cak Arif mulai menuliskan sejumlah artikel mengenai sejarah Bung Karno dan kaitannya dengan wilayah Ploso di media tempatnya bekerja sebagai jurnalis. Saat itu, sumber informasi yang dapat diwawancarai masih terbatas.
Ia menyebut dua narasumber utama pada masa awal penelusuran tersebut, yakni R.M. Kushartono dari keluarga Ndalem Pojok Wates Kediri serta Dian Sukarno, penulis buku Candradimuka.
Diskusi mengenai temuan-temuan sejarah itu kemudian dibahas bersama sejumlah kolega dalam forum kecil di musala Pondok Pesantren Jatiwates, Tembelang, pada tahun yang sama. Beberapa tokoh masyarakat turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Pada Oktober 2019, Cak Arif juga menyampaikan informasi mengenai sejarah Bung Karno dan Ploso kepada sastrawan Binhad Nurrohmat dalam peringatan Hari Santri di Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang.
Bersama keluarga pengelola Situs Persada Soekarno Kediri, upaya penelusuran terus dilakukan. Dari proses tersebut, mereka menemukan makam Mbok Suwi yang dikenal sebagai pengasuh Bung Karno semasa kecil, beserta makam anggota keluarganya.
Selain itu, tim penelusur juga menemukan makam Mbah Joyodipo yang disebut sebagai teman masa kecil Bung Karno di wilayah Ploso.
Penelitian tersebut semakin berkembang setelah Cak Arif menemukan foto seorang saksi kelahiran Bung Karno yang dikenal dengan sebutan Kek Suro atau Mas Kiai Surosentono di daerah Kabuh, Jombang. Penemuan itu dinilai penting karena sebelumnya sosok Kek Suro hanya dikenal melalui cerita lisan.
“Ketika foto Kek Suro ditemukan, seakan menjadi jawaban atas misteri tentang saksi kelahiran Bung Karno,” jelasnya.
Perjalanan riset itu berlanjut ketika Cak Arif mengikuti asesmen Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) di Jakarta pada 2022. Setahun kemudian, ia resmi menjadi anggota TACB Kabupaten Jombang melalui Surat Keputusan Bupati Jombang.
Setelah itu, ia mendorong agar narasi sejarah mengenai kelahiran Bung Karno di Ploso didaftarkan secara resmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang agar dapat dikaji secara akademis oleh TACB.
Usulan tersebut akhirnya diajukan oleh pihak Situs Persada Soekarno Kediri pada akhir 2023. TACB Kabupaten Jombang kemudian melakukan kajian lapangan pada 2024, termasuk menelusuri informasi ke sejumlah keluarga Bung Karno di Blitar, Kediri, Bali, hingga Jakarta.
Hasilnya, pada September 2024 TACB Kabupaten Jombang mengeluarkan rekomendasi penetapan lokasi kelahiran Bung Karno di Ploso sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.
Cak Arif menambahkan, narasi sejarah tersebut juga telah disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada 2025. Selain itu, dokumen kajian juga diserahkan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Bahkan, laporan tersebut secara langsung disampaikan kepada Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam sebuah kesempatan di Surabaya pada Desember 2026.
Cak Arif berharap hasil penelitian yang telah dilakukan selama bertahun-tahun itu dapat memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah. Dengan begitu, situs yang diyakini sebagai tempat kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang, dapat ditetapkan sebagai cagar budaya sekaligus meluruskan narasi sejarah mengenai tempat dan waktu kelahiran Sang Proklamator secara lebih sistematis.
Leave a Comment