Foto : Penampakan pohon natal yang terbuat dari bambu di GKJW Jl Adityawarman, Jombang. (Kevin Nizar)
JOMBANG, KabarJombang.com — Sebuah pemandangan tak biasa menyambut umat saat memasuki ruang ibadah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jombang. Bukan pohon cemara sintetis seperti umumnya, tetapi sebuah pohon natal unik setinggi enam meter yang tersusun dari ratusan potongan bambu.
Berlokasi di Jalan Adityawarman, gereja ini memilih bahan dasar bambu material sederhana yang sarat makna untuk memperindah suasana Natal 2025. Dari dekat tampak rapinya 220 potongan bambu yang disusun membentuk menara menyerupai pohon natal, dilengkapi lampu-lampu dan lampion berbahan alami yang memberi suasana hangat dan bersahaja.
Vikar GKJW Jombang, Zefta Bagus Nugroho, menjelaskan bahwa pemilihan bambu bukan sekadar kreativitas visual. Bambu dipilih karena nilai filosofisnya yang kuat.
“Bambu itu sederhana, tapi akarnya sangat kuat menopang pertumbuhannya menjulang ke atas. Dan saat bertumbuh, ia tidak selalu tegap ada kalanya melengkung. Itu simbol kerendahan hati,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (9/12/2025).
Menurut Zefta, sifat-sifat bambu tersebut selaras dengan makna kehadiran Yesus yang digambarkan penuh kesederhanaan dan kerendahan hati, sekaligus memberikan kekuatan iman bagi manusia.
Ia menambahkan, bambu juga dikenal tahan berbagai musim sebuah pengingat bahwa umat kristiani perlu tetap teguh menghadapi tantangan hidup.
Menariknya, bambu yang digunakan merupakan limbah bambu. “Ini melambangkan bahwa Tuhan Yesus hadir untuk merengkuh mereka yang tersisihkan, yang dianggap tidak berharga, dan memulihkan mereka dengan kasih-Nya,” kata Zefta.
Total terdapat 90 batang bambu yang kemudian dipotong menjadi 220 bagian, dan proses pengerjaannya memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
Selain pohon bambu utama, GKJW Jombang juga menggelar Festival Pohon Natal yang melibatkan jemaat dari berbagai kelompok. Sebanyak 10 kelompok ikut serta, masing-masing membuat satu pohon natal dari bahan daur ulang.
Setiap kelompok terdiri dari dua hingga lima orang yang bekerja sebagai tim dekorasi.
Festival ini menjadi ruang ekspresi dan kebersamaan, tempat jemaat dapat berpartisipasi, merayakan sukacita, dan menghadirkan kreativitas mereka dalam suasana Natal.
“Harapannya, melalui kegiatan ini warga jemaat bisa merasakan sukacita kebersamaan. Natal itu tentang cinta, damai, dan karya bersama,” ungkap Zefta.
Melalui pohon bambu ini, GKJW Jombang ingin mengingatkan umat bahwa makna Natal bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada simbol kehidupan yang mengajarkan kekuatan, pengharapan, dan kasih.
“Hal ini juga Sejalan dengan tema Natal Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga, dengan harapan umat dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar Kerajaan Allah yang dipanggil untuk menghadirkan cinta dan damai,” tuturnya.
Pohon bambu itu kini berdiri tegak sederhana namun penuh makna menjadi simbol bahwa dalam kerendahan hati ada kekuatan, dan dalam kesederhanaan selalu ada harapan.
Leave a Comment