Sosial Budaya

Mantan Anak Didik Lapas Berjuang Melawan Godaan Residivisme dengan Musikalisasi Puisi Binaan Rumah Hati Jombang

MOJOWARNO, KabarJombang.com – Sebuah pertunjukan musikalisasi puisi bertajuk ‘Seberkas Cahaya’ dipentaskan oleh mantan anak didik lembaga pemasyarakatan, Minggu (14/12/2025), di MWCNU Mojowarno, Jombang. Pentas ini digelar oleh Shelter Rumah Hati Jombang sebagai ruang ekspresi sekaligus proses pemulihan psikologis anak-anak yang pernah berkonflik dengan hukum.

Lima remaja tampil dalam pertunjukan tersebut, masing-masing berasal dari daerah berbeda, yakni Rama (Jombang), Reval (Kediri), Ali (Surabaya), Fuad (Nganjuk), dan Rafi (Jombang). Mereka merupakan mantan anak didik dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IA Blitar, Rutan Kelas IIB Nganjuk, dan Lapas Kelas IIB Jombang.

Pantauan di lokasi, mereka membacakan puisi diiringi dengan beberapa musik serta teater dari 2 anak yang memakai topeng berbeda. 3 orang anak selain memainkan alat musik, mereka juga secara bergantian membacakan puisi.

Koordinator Pendamping Shelter Rumah Hati Jombang, Mohammad Faisol Hidayat, menjelaskan bahwa alur musikalisasi puisi ini berangkat dari cerita nyata para anak binaan setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan.

“Topeng yang digunakan ada dua. Yang hitam-putih dan yang belang-belang hitam. Itu memang permintaan mereka sendiri,” ujar Faisol.

Topeng tersebut melambangkan pertarungan batin antara niat untuk berubah dengan godaan untuk kembali melakukan tindak pidana. Sosok jahat dalam pertunjukan menggambarkan bayang-bayang masa lalu serta kekhawatiran menjadi residivis.

“Faktanya, sekitar 90 persen anak-anak yang keluar dari lapas berpotensi kembali lagi kalau tidak kuat. Makanya di akhir cerita, sosok jahatnya jatuh. Itu harapan mereka, bahwa mereka bisa tetap teguh dan tidak tergoyahkan,” jelasnya.

Proses persiapan pentas ini berlangsung selama 10 minggu. Tantangan terberat bukan pada teknis pementasan, melainkan pada keberanian anak-anak menyampaikan kisah hidup mereka sendiri di depan publik.

“Kalau membaca cerita orang lain, mereka lancar. Tapi saat membaca cerita sendiri, itu berat. Cerita kesalahan dan masalah hidup mereka disampaikan ke penonton umum, itu tidak mudah,” kata Faisol.

Meski demikian, ia menilai hasil akhir pertunjukan sudah tepat sasaran dan mampu menyampaikan pesan secara jujur dan menyentuh.

Ketua sekaligus pendiri Shelter Rumah Hati Jombang, Prof. Yusti Probowati, dosen psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), menjelaskan bahwa Shelter Rumah Hati berdiri sejak 2011 dan fokus pada pendampingan anak-anak yang berkonflik dengan hukum.

“Mereka ada yang keluar dari lapas anak seperti LPKA Blitar, ada juga yang kasusnya diversi, yaitu penyelesaian di luar pengadilan karena kasusnya tidak berat,” jelas Prof. Yusti.

Anak-anak yang didampingi tidak hanya berasal dari Jombang, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Nganjuk, Surabaya, dan sekitarnya.

Selama berada di shelter, anak-anak dibimbing selama kurang lebih delapan bulan. Mereka dilatih keterampilan hidup dasar untuk membangun disiplin dan tanggung jawab.

“Mereka dilatih bangun pagi, mandi, sholat, masak sendiri, bersih-bersih, sampai belanja. Hal-hal sederhana tapi penting karena banyak dari mereka berasal dari keluarga yang tidak utuh,” ungkap Prof. Yusti.

Selain itu, anak-anak juga mendapatkan pendampingan psikologis intensif. Jika pendamping tidak mampu menangani persoalan tertentu, maka akan dirujuk ke psikolog profesional.

“Beberapa anak bahkan tidak punya keluarga sama sekali. Itu bukan hal yang mudah secara psikis,” tambahnya.

Sejak berdiri, Shelter Rumah Hati Jombang telah mendampingi sekitar 80–90 anak. Saat ini, shelter hanya menangani lima anak karena pendampingan dilakukan secara personal dan eksklusif.

Selain pembinaan mental, anak-anak juga diajarkan keterampilan seperti sablon, membuat kursi dan meja, sebagai bekal kemandirian.

“Kalau disuruh sekolah, banyak yang tidak betah. Mereka lebih suka kegiatan psikomotorik, pakai tangan. Itu juga melatih tanggung jawab,” pungkas Prof. Yusti.

Melalui pentas musikalisasi puisi ‘Seberkas Cahaya’, Shelter Rumah Hati Jombang berharap masyarakat dapat melihat sisi lain anak-anak mantan narapidana bukan sebagai masa lalu yang kelam, tetapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berubah.

Wakil Koordinator Pendamping Shelter Rumah Hati Jombang, Ahmad Fikri, menambahkan bahwa kegiatan seni seperti musikalisasi puisi menjadi media penting untuk membangun kembali rasa percaya diri anak-anak binaan.

“Bagi mereka, seni adalah bahasa yang paling jujur. Mereka mungkin sulit bicara panjang lebar tentang perasaan, tapi lewat puisi, musik, dan gerak tubuh, luka batin itu bisa keluar tanpa dipaksa,” ujar Fikri sapaan akrabnya.

Ia menegaskan bahwa proses pendampingan tidak berhenti pada pementasan semata, melainkan menjadi bagian dari perjalanan panjang anak-anak untuk menemukan jati diri yang baru setelah keluar dari lapas.

“Kami tidak hanya ingin mereka tampil bagus di panggung, tapi lebih penting lagi mereka punya keberanian menghadapi masa depan. Pentas ini adalah simbol bahwa mereka masih punya harapan dan pilihan hidup yang lebih baik,” katanya.

Menurut Fikri, dukungan masyarakat menjadi faktor krusial agar anak-anak tidak kembali terjerumus pada lingkungan lama yang berisiko.

“Kalau setelah ini mereka kembali distigma dan ditolak, perjuangan mereka akan jauh lebih berat. Karena itu kami berharap masyarakat bisa membuka ruang penerimaan, bukan kecurigaan,” pungkasnya.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar