Sosial Budaya

Lewat Kaligrafi, Santri Jombang Tebar Dakwah dan Keindahan Islam

DIWEK, KabarJombang.com – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang melalui Pesantren Kaligrafi SAKAL bekerja sama dengan PC JQH NU Jombang menggelar Pameran dan Festival Kaligrafi Islam 2025 yang diresmikan, Rabu (22/10/2025).

Acara berlangsung pada 19–26 Oktober 2025 di Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (MINHA) dengan mengusung tema “The Sacred Art: Jejak Wahyu & Identitas”.

Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 50 karya kaligrafi hasil karya santri dan seniman pesantren. Festival tersebut menjadi ruang bagi kalangan pesantren untuk meneguhkan bahwa dakwah Islam dapat disampaikan melalui jalur seni dan estetika.

Ketua Panitia, Fathur Rohman, menjelaskan bahwa kaligrafi memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar keindahan visual.

“Kaligrafi bukan sekadar tulisan indah, tetapi juga bentuk pengabdian dan ekspresi cinta kepada Al-Qur’an. Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkan karya para santri dan seniman pesantren ke ranah nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ato’illah, pengurus Pesantren Kaligrafi SAKAL, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih memahami makna dan ragam khot (jenis tulisan Arab) dalam Islam.

“Selama ini kaligrafi sering dianggap hanya milik kalangan tertentu. Kami ingin mengedukasi publik bahwa kaligrafi adalah seni yang bisa dinikmati siapa pun, bukan hanya seniman pesantren,” terangnya.

Ia menambahkan, kaligrafi merupakan bagian penting dari kebudayaan Islam yang tak kalah luhur dari seni suara atau musik religi.

“Khot itu sangat luas. Kebudayaan Islam tidak hanya hadir dalam bentuk musik atau seni suara, tapi juga dalam bentuk visual seperti kaligrafi. Yang kami tekankan di sini adalah edukasi tentang khot,” imbuhnya.

Minat terhadap kaligrafi pun meningkat seiring dengan posisi Indonesia yang kini menempati peringkat ketiga dunia dalam bidang khot.

Dalam pameran ini, pengunjung dapat menyaksikan berbagai gaya tulisan Arab klasik, di antaranya khot Magribi jenis tertua yang berkembang sejak masa Rasulullah SAW serta khot Kufi yang populer pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

“Beberapa karya dari para santri SAKAL ada yang terjual hingga 100 juta dengan jenis kaligrafi Diwani Jali, yang dahulu dipakai untuk kop surat para sultan Turki,” pungkasnya.

Festival Kaligrafi Islam 2025 menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang kreatif yang melahirkan karya seni bernilai tinggi.

Melalui kegiatan ini, santri Jombang menegaskan bahwa dakwah bisa disampaikan dengan cara indah dan beradab, lewat guratan tinta yang membawa pesan spiritual dan keindahan Islam.

Leave a Comment
Share
Published by
Wahyu Umattulloh Al'iman