Sosial Budaya

Lepas Penat dengan Main Layang-layang ala Warga Kepuhkembeng Peterongan, Begini Keseruanya!

PETERONGAN, KabarJombang.com – Saat sore mulai merambat dan matahari pelan-pelan tenggelam di ufuk barat, warga Dusun Jajar, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, punya cara tersendiri melepas penat. Rabu (24/9/2025) sore itu, pematang sawah yang biasanya sunyi berubah menjadi arena permainan penuh tawa, langit dihiasi puluhan layang-layang warna-warni yang menari bersama angin semilir.

Tak peduli usia, dari anak-anak hingga para bapak, semua larut dalam keseruan menerbangkan layangan. Suasana cerah yang mengiringi sore hari membuat kegiatan ini terasa lebih istimewa seolah menjadi oase di tengah rutinitas harian sebagai pekerja maupun pelajar.

“Ini hiburan murah meriah, tapi bikin hati senang,” ujar Noval, salah satu pemuda dusun yang terlihat cekatan menggulung benang saat layangannya berhasil ‘menjatuhkan’ lawan dalam sambitan.

Meski zaman terus berubah, permainan tradisional ini tetap punya tempat di hati warga. Layangan tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana berkumpul, berkompetisi sehat, bahkan mempererat ikatan antarwarga.

“Kalau sore begini ya sudah, semua ngumpul di sini. Ada yang memang duel layangan, tapi banyak juga yang cuma nerbangin buat senang-senang,” cerita Aksal, warga setempat yang mengaku hobi bermain layang-layang sejak kecil.

Tak sedikit layangan yang akhirnya putus dan terbang bebas, disambut sorak-sorai anak-anak yang berlarian mengejarnya di pematang. Ada keseruan tersendiri ketika angin kencang membuat pertandingan semakin seru. Kadang terjadi ‘perang layangan’, di mana benang-benang tajam (dikenal sebagai benang gelasan) saling mengadu, hingga salah satu layangan tumbang.

“Kalau sudah sambitan itu deg-degan, tangan harus lincah narik-ulur benang. Rasanya puas banget kalau layangan lawan putus di tangan kita. Tapi kalau kalah ya tinggal ketawa aja, besok coba lagi,” ungkap Muhin, sambil terkekeh.

Ia menambahkan bahwa momen sambitan menjadi bagian paling ditunggu, terutama karena adu taktik dan kecepatan sangat menentukan. “Kadang kita udah unggul, eh… malah lengah, putus juga. Tapi itu justru serunya,” imbuhnya.

Bagi sebagian warga, bermain layangan juga menjadi semacam ‘ritual’ untuk berdamai dengan diri sendiri. Seperti yang dirasakan Yunus, seorang pekerja yang nyaris tak pernah absen hadir setiap sore.

“Buat saya, lihat layangan naik tinggi itu seperti lihat harapan. Meski hari-hari berat, tapi ada saatnya kita bisa tenang, bisa senang. Di sini tempatnya,” ucapnya sambil tersenyum, matanya menatap langit.

Kegiatan yang terlihat sederhana ini nyatanya menjadi bagian penting dari dinamika sosial masyarakat Dusun Jajar. Di tengah serbuan gadget dan hiburan digital, mereka membuktikan bahwa tradisi bisa tetap hidup selama ada yang melestarikan.

Ketika banyak tempat mulai kehilangan tradisi karena arus modernisasi, Dusun Jajar justru memperlihatkan bahwa kebahagiaan bisa sesederhana seutas benang dan sebidang kertas yang terbang menari bersama angin. Senja, sawah, dan layangan menjadi tiga elemen yang menjadikan hari-hari mereka tetap berwarna.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar