Foto: Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jatim saat ziarah ke makam Gus Dur, Tebuireng, Jombang. (Kevin Nizar)
DIWEK, KabarJombang.com – Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur menggelar kegiatan silaturahmi kebangsaan di Kabupaten Jombang dengan berziarah ke makam Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau yang dikenal sebagai Gus Dur. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa tokoh pluralisme yang dinilai telah membuka ruang kebebasan bagi masyarakat Tionghoa dalam mengekspresikan budaya mereka di Indonesia.
Kegiatan yang mengusung tema Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur itu berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Diwek, Jombang. Selain berziarah, rombongan juga melakukan silaturahmi dengan pimpinan pesantren sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan lintas budaya dan agama.
Ketua Pengurus Daerah INTI Jawa Timur, Stefanus Budy, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan kepada Gus Dur atas kontribusinya dalam memperjuangkan nilai toleransi dan keberagaman di Indonesia.
Menurutnya, kebijakan dan pemikiran Gus Dur telah memberikan dampak besar bagi masyarakat Tionghoa, terutama dalam membuka ruang kebebasan untuk mengekspresikan identitas budaya secara terbuka.
“Bagi kami, Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan sekaligus simbol pluralisme. Beliau berani membuka sekat-sekat di antara anak bangsa sehingga masyarakat Tionghoa bisa lebih leluasa merayakan budaya, termasuk Imlek dan berbagai tradisi lainnya,” ujar Stefanus di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti sekitar 70 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, di antaranya sekitar 45 orang dari Surabaya, 20 orang dari Jombang, serta enam orang dari Malang.
Selain ziarah, rombongan INTI Jawa Timur juga melakukan kunjungan budaya ke Klenteng Hong San Kiong di Kecamatan Gudo. Di lokasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai tradisi budaya Tionghoa, termasuk seni pertunjukan wayang potehi yang telah lama berkembang di kawasan tersebut.
Rombongan juga mengunjungi Museum Wayang Potehi Gudo untuk melihat langsung proses pembuatan serta pelatihan kesenian wayang potehi yang menjadi salah satu warisan budaya Tionghoa di Indonesia.
Ketua panitia kegiatan, Phoa Anditya, mengatakan kunjungan tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas, khususnya dalam momentum perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Menurutnya, ada hal menarik dalam workshop wayang potehi di Klenteng Hong San Kiong, yakni terdapat sejumlah santri yang ikut belajar memainkan kesenian tradisional hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia, khususnya Jawa tersebut.
“Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana budaya bisa menjadi jembatan persaudaraan di tengah keberagaman,” kata Phoa.
Setelah rangkaian kegiatan ziarah dan kunjungan budaya, rombongan INTI Jawa Timur juga melanjutkan kegiatan sosial dengan membagikan sekitar 1.000 paket makanan berbuka puasa kepada masyarakat di kawasan Alun-alun Jombang.
Phoa berharap kegiatan mengenang Gus Dur dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga semangat toleransi dan memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.
“Harapannya, memori tentang Gus Dur tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus merawat nilai kebersamaan dan saling menghargai,” pungkasnya.
Leave a Comment