Foto: Herman Useno Ketua Kepercayaan Kapribaden Kabupaten Jombang. (Wahyu/KabarJombang).
JOMBANG, KabarJombang.com – Pagi itu, di sebuah rumah sederhana di kawasan Perumahan Jombang Permai, senyum tenang Herman Useno menyambut hangat tamu yang datang. Tak ada yang mencolok dari sosok pria 65 tahun ini.
Ia bukan pemuka agama yang sering tampil di layar kaca, apalagi dikenal luas di kalangan publik. Namun, di balik ketenangannya, Herman menyimpan keyakinan mendalam yang telah ia jalani selama puluhan tahun yakni kepercayaan Kapribaden.
Kapribaden, baginya, bukan sekadar ajaran. Ia menyebutnya “laku” jalan sunyi untuk mengenal diri sendiri hingga mampu menyatu dengan Sang Urip, sebutan bagi Tuhan dalam kepercayaan ini. “Kami tidak menyebut ini agama. Ini kepercayaan,” ujarnya.
Sebagai Ketua Kapribaden Kabupaten Jombang, Herman telah lama menjadi tempat bertanya sekaligus penguat bagi para penghayat di kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam itu. Ia menyadari bahwa tidak semua orang berani terbuka. Meski kini kolom agama di KTP-nya telah resmi tertulis “Kepercayaan terhadap Tuhan YME”, Herman tak lupa masa lalu yang penuh tekanan.
“Dulu hanya strip. Sekarang kami diakui. Tapi trauma itu belum hilang,” kenangnya. Masa Orde Baru, menurutnya, adalah waktu yang paling berat bagi para penghayat: dikucilkan, dicurigai, dan seringkali dipaksa mengikuti jalur agama formal.
Namun, Kapribaden tetap hidup dalam diam, dalam laku yang setia bersandar pada kearifan lokal. Bahasa Jawa menjadi sarana doa. Peribadatan dilakukan tanpa keramaian, tanpa pengeras suara, bahkan tanpa tempat ibadah khusus. Cukup di rumah. Dengan hati yang khusyuk.
“Saya berdoa dengan sungkem, dalam bahasa Jawa, langsung kepada Gusti,” tutur Herman.
Ibadah itu rutin ia jalani setiap Senin Pon atau Senin Pahing. Dan sekali dalam setahun, pada 13 November, mereka memperingati turunnya Wahyu Ponco Ghaib hari yang dianggap suci oleh para penghayat Kapribaden.
Hari-hari besar mereka tidak gemerlap. Bahkan ibadah di Senin Pahing hanya berupa doa dalam keheningan, di rumah masing-masing. “Yang kami sembah hanya satu, Gusti. Tidak ada yang lain,” tegasnya.
Kapribaden bukan untuk diyakini lewat nalar semata, melainkan dijalani lewat rasa. Mereka yang siap, akan menerima “Kunci” sebuah panduan awal menuju pemahaman diri dan roh, atau dalam istilah mereka, urip.
Herman pun menjelaskan, Kapribaden tidak memiliki kitab yang bisa dibaca seperti agama-agama formal. “Kitab kami bukan untuk dibaca, tapi untuk dirasa. Dengan hati,” katanya, sembari menatap tenang ke luar jendela.
Di tengah kota Jombang yang dikenal sebagai “kota santri”, Herman dan rekan-rekan sejalannya memilih jalan berbeda. Jalan sunyi. Tapi di sanalah mereka menemukan makna, menyatu dengan Sang Urip, dalam diam yang penuh hikmah.
Leave a Comment