Drama kolosal Merah Putih Tak Tergantikan yang dimainkan warga Dusun Kuripan, Kendalsari, Sumobito. (Istimewa)
SUMOBITO, KabarJombang.com – Sejarah perjuangan mempertahankan Merah Putih tidak hanya dikenalkan melalui buku pelajaran. Di Dusun Kuripan, Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, kisah perjuangan arek-arek Suroboyo justru dihidupkan kembali melalui panggung drama yang dimainkan warga sendiri.
Drama kolosal bertajuk ‘Merah Putih Tak Tergantikan’ tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Menurut, Alfan Tomim, selaku sutradara dalam drama tersebut, yang membuat pertunjukan ini berbeda, para pemainnya bukan aktor profesional. Anak-anak, remaja, pemuda, ibu-ibu hingga bapak-bapak warga setempat ikut mengambil peran untuk membawa kembali salah satu fragmen penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Cerita yang dipentaskan mengambil latar peristiwa Hotel Yamato di Surabaya. Saat itu, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, berkibarnya bendera Belanda di Hotel Yamato memicu kemarahan rakyat,” ungkapnya pada Rabu (19/8/2026).
Kemudian lanjutnya, hal tersebut membuat warga Surabaya marah dan mendatangi hotel untuk meminta bendera tersebut diturunkan. Ketegangan meningkat ketika permintaan itu tidak segera mendapat tanggapan. Para pemuda akhirnya menaiki hotel dan merobek bagian biru bendera Belanda hingga menyisakan warna merah dan putih.
Adegan tersebut menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian penonton. Melalui seni pertunjukan, anak-anak dan warga yang terlibat tidak hanya memainkan sebuah cerita, tetapi juga berusaha memahami kembali makna Merah Putih sebagai simbol perjuangan dan keberanian mempertahankan kemerdekaan.
“Keterlibatan anak-anak menjadi salah satu bagian penting dalam pertunjukan. Mereka tampil dalam sejumlah adegan dengan mengenakan kostum bernuansa tradisional,” ujar Pendiri Rumah Merdeka (Rudeka) Indonesia tersebut.
Bagi sebagian anak, pengalaman tersebut menjadi cara berbeda untuk mengenal sejarah. Mereka tidak sekadar mendengar cerita tentang perjuangan, tetapi ikut memerankan tokoh dan suasana yang menggambarkan peristiwa pada masa perjuangan kemerdekaan.
Konsep pertunjukan malam hari juga diperkuat dengan permainan lampu serta properti bernuansa tradisional. Penataan tersebut dirancang untuk membawa penonton merasakan atmosfer perjuangan pada era 1940-an.
Alfan Tomim, mengatakan proses mempersiapkan pertunjukan tersebut juga menjadi pengalaman tersendiri bagi para pemain. Mereka hanya menjalani tujuh kali pertemuan latihan. Di tengah waktu persiapan yang terbatas, para pemain tetap harus membagi waktu dengan pekerjaan dan keluarga.
Sebagian warga bahkan baru dapat mengikuti latihan setelah menyelesaikan pekerjaan atau mengantar anak.
“Ini luar biasa. Kegiatan dusun dikemas dengan cara yang menarik dan unik. Walaupun pemain memiliki kesibukan masing-masing, mereka tetap berusaha hadir dan berlatih. Di sinilah saya melihat semangat kebersamaan warga,” kata Alfan.
Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan pertunjukan di atas panggung.
Drama tersebut, kata Alfan, bukan hanya menceritakan perjuangan para pahlawan. Ada nilai perjuangan lain yang muncul dari proses warga mempersiapkan pertunjukan, yakni kemauan untuk meluangkan waktu, belajar bersama, dan bekerja secara gotong royong.
Kepala Dusun Kuripan, Angga Wijaya Santoso, mengaku bangga melihat pertunjukan yang lahir dari swadaya masyarakat tersebut. Menurutnya, keterlibatan warga dari berbagai kelompok usia menunjukkan bahwa kegiatan memperingati kemerdekaan dapat dikemas melalui cara yang lebih kreatif sekaligus menjadi ruang untuk mempererat kerukunan.
Ia berharap semangat yang muncul selama persiapan dan pelaksanaan drama tidak berhenti setelah perayaan kemerdekaan berakhir.
“Semoga kerukunan dan semangat seperti ini terus terjalin. Bukan hanya saat Agustusan, tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan masyarakat berikutnya,” harapnya.
Gagasan menghadirkan pertunjukan seni dalam perayaan kemerdekaan salah satunya dipantik oleh Ibu Umi, warga setempat. Ia mendorong agar kegiatan Agustusan tidak hanya diisi dengan agenda seremonial, tetapi juga menghadirkan kegiatan seni yang dapat melibatkan lebih banyak masyarakat.
Harapannya, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan menjadi ruang bagi warga untuk bertemu, berkreasi, bergotong royong, sekaligus mengenalkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Setelah drama kolosal selesai, suasana perayaan berlanjut dengan joget semangat yang melibatkan masyarakat Dusun Kuripan.
Namun, puncak acara justru berlangsung dalam suasana yang lebih khidmat. Para pemain dan penonton berdiri bersama, memberikan hormat kepada bendera Merah Putih, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Leave a Comment