Sosial Budaya

Jejak Pangeran Jenu, Sang Penyebar Islam yang Namanya Jarang Terdengar di Jombang

NGORO, KabarJombang.com – Suasana Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, selalu terasa berbeda setiap malam Jumat. Puluhan peziarah berdatangan, menapaki jalan menuju sebuah kompleks pemakaman sederhana. Di sanalah Pangeran Jenu, atau dikenal pula dengan nama Syaikh Ali Mukhtar, dimakamkan. Tokoh yang namanya mungkin tak setenar Wali Songo, tetapi memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di tanah Jombang.

Pangeran Jenu bukan sosok biasa. Ia masih memiliki garis keturunan dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, pendiri Kerajaan Pajang. Menurut penuturan Sukirno (70), juru kunci makam, perjalanan Pangeran Jenu diwarnai kisah penuh lika-liku.

“Beliau sempat berselisih paham dengan Jaka Tingkir. Dari situlah Pangeran Jenu memilih meninggalkan Pajang dan menetap di Banyuarang untuk mendirikan pesantren bersama gurunya, Mbah Adipuro,” tutur Sukirno, ketika diwawancarai.

Di tengah masyarakat yang kala itu masih memeluk Hindu-Buddha, pesantren tersebut menjadi titik awal perkenalan Islam di wilayah selatan Jombang. Dakwah Pangeran Jenu tidak berjalan mulus. Ia kerap berseteru dengan tokoh legendaris setempat, Kebokicak, yang dikenal sakti dan disegani. Pertentangan keduanya bahkan sempat memicu peperangan besar.

“Pasukan Pangeran Jenu akhirnya memenangkan pertempuran. Tapi kemudian terjalin perdamaian lewat jalan besanan. Putra Pangeran Jenu, Nur Khotib, dinikahkan dengan putri Kebokicak, Wandan Wanuh,” jelas Sukirno.

Kisah ini menjadi babak baru penyebaran Islam di Jombang. Lewat hubungan keluarga, ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat. Nama Pangeran Jenu perlahan melekat sebagai sosok ulama sekaligus tokoh spiritual yang berperan menanamkan nilai-nilai Islam di tanah Jawa bagian timur.

Kini, makam Pangeran Jenu tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhirnya, tetapi juga pusat ziarah. Muhammad Isya, warga Banyuarang sekaligus pengurus kompleks pemakaman, menceritakan bagaimana perubahan tujuan peziarah dari masa ke masa.

“Dulu ada yang datang dengan maksud mencari nomor togel. Tapi sekarang, orang-orang datang lebih banyak untuk berdoa dan bertawasul, memohon keberkahan kepada Allah melalui wali-Nya,” ungkapnya.

Pada malam Kamis atau Jumat, makam semakin ramai. Warga percaya waktu tersebut penuh keberkahan untuk mendoakan leluhur. Tradisi haul Pangeran Jenu dan Mbah Adipuro setiap 15 Syaban menjadi puncak penghormatan. Ribuan jamaah berkumpul, membaca yasin, tahlil, khotmil quran, hingga bersholawat.

Bagi masyarakat Banyuarang, haul itu bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk terima kasih atas jasa para penyebar Islam yang telah membuka jalan bagi generasi setelahnya. Di balik sunyi kompleks pemakaman, terpatri kisah seorang tokoh yang jarang dikenal, tetapi jejaknya begitu nyata dalam sejarah Islam di Jombang.

Leave a Comment
Share
Published by
Wahyu Umattulloh Al'iman