Foto: Akademisi sekaligus Sosiolog Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Mukari. (Istimewa/KabarJombang).
JOMBANG, KabarJombang.com – Wacana kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang pada 6 Juni 1902 kian menguat. Akademisi sekaligus Sosiolog Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Mukari, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang segera membentuk tim kajian sejarah resmi guna menelusuri kebenaran narasi tersebut secara akademik dan ilmiah.
Menurut Mukari, apabila terbukti Bung Karno lahir di Ploso, hal itu akan memberikan dampak strategis terhadap identitas dan positioning Kabupaten Jombang di tingkat nasional bahkan internasional. Ia menilai, Jombang akan semakin kokoh sebagai wilayah berkarakter nasional-religius, yang memadukan simbol nasionalisme dan kekuatan tradisi pesantren dalam satu ruang sejarah.
“Bung Karno adalah simbol nasionalisme. Sisi religius Jombang bisa terwakili oleh Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah, dan juga Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan tokoh-tokoh berkaliber internasional berbasis pesantren,” ujar Mukari, Rabu (18/2/2026).
Ia menambahkan, kombinasi tokoh nasionalis dan religius dalam satu wilayah berpotensi menjadikan Jombang sebagai pusat kajian keilmuan bertaraf internasional.
“Beliau-beliau ini merupakan tokoh kaliber internasional dan pemikirannya banyak dikaji secara global,” ucapnya.
Dari sisi sejarah ketatanegaraan, Mukari menilai, jika narasi tersebut terbukti secara akademik, Jombang akan tercatat sebagai daerah kelahiran dua presiden RI.
“Ada Gus Dur sebagai Presiden keempat RI dan Bung Karno sebagai Presiden pertama RI,” tandasnya.
Ia menegaskan, perhatian serius pemerintah daerah sangat diperlukan agar wacana ini tidak berhenti pada perdebatan publik semata.
“Bentuk perhatian serius itu bisa berupa pembentukan tim yang memiliki otoritas keilmuan di bidang sejarah, melibatkan para akademisi dan peneliti profesional,” tegasnya.
Sebelumnya, pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau akrab disapa Cak Arif, memaparkan sejumlah data yang menurutnya menguatkan narasi bahwa Bung Karno lahir di Ploso pada 6 Juni 1902. Saat itu, Ploso masih berada dalam wilayah Karesidenan Surabaya pada masa Hindia Belanda.
Ia menjelaskan, Kabupaten Jombang baru berdiri pada 1910 seiring pelantikan bupati pertama, R.A.A. Soeroadiningrat V atau Kanjeng Sepuh Jombang.
Cak Arif menunjukkan dokumen besluit atau Surat Keputusan penugasan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso tertanggal 28 Desember 1901.
“Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso pada 28 Desember 1901,” ujarnya.
Enam bulan setelah penugasan tersebut, tepatnya 6 Juni 1902, Bung Karno lahir. Ia menyebut arsip Technische Hoogeschool (THS) yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB) mencatat Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal tersebut.
Menurut Cak Arif, penyebutan Surabaya merujuk pada wilayah administratif Karesidenan Surabaya pada masa Hindia Belanda, yang mencakup sejumlah desa yang kini masuk wilayah Kabupaten Jombang.
Ia mengutip laporan pekerjaan sipil tahun 1894 yang menyebut sejumlah desa di kawasan tersebut sebagai bagian dari Surabaja (Surabaya), antara lain Desa Wuluh, Pojokrejo, Gumulan, Kedungboto (Podoroto) di Kecamatan Kesamben, serta Semanden yang kini terkonfirmasi sebagai Dusun Semaden, Desa Kepuhdoko, Kecamatan Tembelang.
Dalam dokumen itu tertulis: “In Surabaja heeft men in den rechter Brantasdijk de volgende irrigatiesluizen…” yang menjelaskan pembangunan saluran irigasi di sejumlah wilayah dengan satuan luas bahu.
“Dengan penyebutan Surabaja atau Surabaya terhadap desa-desa yang sekarang masuk Kabupaten Jombang, menandakan pada masa itu wilayah Kabupaten Jombang memang bagian dari Karesidenan Surabaya,” jelasnya.
Ia menilai, sangat rasional apabila kelahiran Bung Karno pada 6 Juni 1902 ditulis dengan keterangan Surabaya.
“Jadi, Surabaya yang dimaksud adalah Ploso yang saat itu merupakan bagian dari Karesidenan Surabaya,” pungkasnya.
Leave a Comment