Foto : Jejak Peduli ODGJ Jombang aksi dari Roushon Fikr membahagiakan pasien Griya Cinta Kasih, Sumbermulyo, Jogoroto, Jombang. (Kevin Nizar)
JOGOROTO, KabarJombang.com – Jumat (12/9/2025) pagi di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, terdengar tawa ceria membelah udara. Bukan di taman bermain, bukan pula di gedung pertunjukan. Tawa itu datang dari sebuah tempat yang biasanya sunyi, jauh dari hiruk-pikuk, Griya Cita Kasih, sebuah panti yang menampung Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).
Hari itu, Roushon Fikr Peduli menggelar kegiatan bertajuk Jejak Peduli ODGJ, sebagai bentuk kepedulian dan upaya membagikan kebahagiaan kepada para pasien di sana.
Kegiatan itu dibuka dengan senam bersama. Di pelataran panti, seorang instruktur senam berdiri di depan, memandu gerakan dengan penuh semangat. Tapi alih-alih mengikuti dengan tertib, para penghuni panti justru bergerak semaunya sendiri.
Ada yang mengayun tangan ke kiri ketika yang lain ke kanan, ada pula yang berputar-putar sambil tertawa lepas. Namun, tak ada yang terganggu. Justru suasana menjadi semakin meriah.
“Namanya juga ODGJ, mereka justru menciptakan koreografi sendiri. Tapi justru di situlah letak kebahagiaannya. Mereka menari mengikuti musik, sesuai versi mereka sendiri,” tutur Imma Rahmawati Ulfa, Ketua Roushon Fikr Peduli, sambil tersenyum.
Gerakan yang tak seirama, ekspresi yang lepas kontrol, dan tawa-tawa yang terdengar bebas menjadi simbol bahwa di balik label gangguan jiwa, mereka tetap manusia yang bisa merasakan dan menebar kebahagiaan.
Apa yang terlihat mungkin tidak rapi di mata orang biasa, tapi di tengah suasana itu, tampak jelas bahwa mereka yang kerap distereotipkan dengan stigma negatif pun mampu merasakan dan mengekspresikan kebahagiaan.
Tak berhenti di senam, acara berlanjut dengan sejumlah lomba tradisional. Yang pertama adalah lomba makan kerupuk, di mana para peserta mencoba menyantap kerupuk yang digantung dengan seutas tali. Tentu, dengan gaya khas mereka sendiri. Beberapa pasien melompat-lompat kegirangan, yang lain justru tertawa sebelum kerupuk tersentuh.
Kemudian dilanjutkan dengan lomba sunggih tempeh, permainan khas lokal yang memancing gelak tawa. Meski sederhana, kedua lomba ini sukses menghidupkan suasana. Para pasien berteriak, tertawa, dan bahkan saling menyemangati, menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan.
Griya Cita Kasih menjadi tempat tinggal bagi ratusan ODGJ dari berbagai latar belakang. Bagi sebagian besar dari mereka, dunia luar adalah kenangan yang mulai memudar. Dalam keheningan yang sehari-hari mereka jalani, kunjungan seperti ini menjadi pelita yang menghangatkan batin.
“Kami sadar, mereka bukan hanya butuh obat dan terapi. Mereka juga butuh interaksi sosial, kasih sayang, dan hiburan. Kebutuhan psikososial ini sering terabaikan,” tambah Imma.
Imma mengatakan bahwa kegiatan ini bukanlah yang pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir. Pihaknya akan terus berupaya dan berbagai untuk memastikan bahwa orang-orang seperti para penghuni Griya Cita Kasih tidak dilupakan begitu saja.
“Bukan soal seberapa besar yang kita beri, tapi seberapa dalam kita hadir untuk mereka. Karena hadir dan peduli adalah bentuk cinta yang tak ternilai,” tandasnya.
ODGJ selama ini masih menghadapi stigma berat dalam masyarakat. Tak jarang mereka dijauhi, bahkan dianggap ‘tidak manusiawi’. Kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama. Mereka punya hak untuk bahagia, dihormati, dan diberi ruang untuk sembuh.
Pihaknya berharap, gerakan kecil ini bisa menginspirasi lebih banyak pihak terutama anak muda dan komunitas sosial untuk turun tangan menyapa mereka yang selama ini berada di pinggir perhatian.
Salah satu relawan, Abdul Qodir, mengaku kegiatan ini memberikan kesan yang mendalam secara pribadi. Bagi pria yang baru pertama kali terlibat langsung dalam kegiatan bersama ODGJ ini, banyak momen yang menggugah hati dan menyadarkan akan arti kepedulian yang sesungguhnya serta menambah rasa syukur.
“Awalnya saya sempat ragu. Takut salah bicara atau salah bersikap. Tapi ternyata mereka sangat responsif, hangat, dan jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya,” ungkapnya.
Abdul Qodir bercerita tentang satu momen ketika seorang pasien mendekatinya, berusaha mengajaknya ngobrol dan berkenalan sambil melemparkan senyuman.
“Itu momen yang sulit saya lupakan. Saya merasa bahwa mereka sebenarnya hanya ingin didengarkan, ditemani, dan tidak dikucilkan,” ujarnya haru.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi jembatan untuk masyarakat lebih memahami bahwa ODGJ bukanlah beban, melainkan manusia yang tengah berjuang untuk kembali pulih.
“Melihat mereka tertawa lepas, itu adalah hadiah terbaik bagi kami para relawan. Mereka jarang mendapatkan hiburan seperti ini. Hari ini, kami ingin mereka merasa dianggap, dihargai, dan dicintai,” pungkasnya.
Leave a Comment