Foto: Anak-anak Desa Banjarsari, Kecamatan Bareng, Jombang, mengisi waktu liburan sekolah dengan berlatih kesenian jaranan dor. (Kevin Nizar)
BARENG, KabarJombang.com – Di saat sebagian anak menghabiskan liburan sekolah dengan bermain gawai atau berwisata, anak-anak di Desa Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang memilih cara berbeda. Mereka mengisi masa liburan dengan berlatih kesenian tradisional jaranan dor, seni rakyat yang sarat nilai budaya dan kebersamaan.
Di halaman rumah salah satu warga, suara gamelan berpadu dengan tabuhan gendang, bas, dan jidor terdengar nyaring. Sejumlah anak tampak serius memainkan alat musik, sementara lainnya lincah mengendalikan jaran kepang. Latihan ini digelar hampir setiap hari selama liburan sekolah.
Salah satu peserta latihan, Fernando Febriansyah (14), siswa kelas II SMP asal Desa Banjarsari, dipercaya sebagai penabuh gendang dalam kelompok jaranan dor tersebut.
“Biar mengisi waktu libur sekolah,” ujar Fernando saat ditemui usai latihan.
Menurutnya, berwisata membutuhkan biaya, sementara berlatih jaranan bisa dilakukan secara gratis dan tetap menyenangkan. “Kalau di sini gratis, terus senang,” katanya.
Selain menjadi sarana hiburan, Fernando mengaku tertarik karena ingin ikut melestarikan budaya daerah. Selama liburan, latihan dilakukan hampir setiap hari. “Kalau liburan, hampir tiap hari latihan,” ujarnya.
Ia juga sudah beberapa kali ikut tampil dalam pementasan, terutama saat bulan Agustus bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan. Dari setiap pentas, ia dan teman-temannya menerima honor sekitar Rp30 ribu per anak. “Buat jajan,” katanya sambil tersenyum.
Soal kemampuan, Fernando mengaku telah menguasai sejumlah lagu jaranan. Menurutnya, untuk bisa memainkan irama dasar jaranan dor tidak memerlukan waktu latihan yang terlalu lama.
Kegiatan ini didampingi oleh Samiaji Mijek, pegiat seni Desa Banjarsari. Ia mengatakan latihan jaranan dor sengaja difokuskan untuk anak-anak agar waktu liburan mereka lebih bermanfaat.
“Daripada main gadget terus, lebih baik kita arahkan ke kesenian jaranan dor,” ujar pria yang akrab disapa Cak Mijek.
Ia menilai ketertarikan anak-anak muncul secara alami karena sejak kecil sudah terbiasa melihat kesenian jaranan tampil di lingkungan desa. “Dari dalam hati mereka memang sudah senang. Karena sering lihat, jadi ingin ikut,” katanya.
Menurut Mijek, jadwal latihan disesuaikan dengan aktivitas anak-anak. Saat hari sekolah, latihan digelar seminggu sekali atau malam Minggu. Namun saat liburan sekolah, intensitas latihan bisa meningkat hampir setiap hari.
Harapan utama dari kegiatan ini, lanjutnya, adalah menjaga kelestarian kesenian tradisional sekaligus mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai.
“Satu, keseniannya tetap lestari. Kedua, anak-anak punya kegiatan positif saat liburan,” jelasnya.
Meski sebagian besar latihan dilakukan di lingkungan desa, anak-anak juga kerap tampil di panggung bersama kelompok jaranan dewasa jika ada undangan pentas.
“Kalau ada tanggapan, biasanya ikut tampil bersama yang dewasa. Tapi anak-anak ini memang masih tahap latihan, meski sudah sering tampil,” ungkapnya.
Di tengah arus modernisasi dan gempuran hiburan digital, semangat anak-anak Desa Banjarsari menjaga warisan budaya lokal menjadi pemandangan yang menyejukkan. Lewat tabuhan gendang dan gerak jaran kepang, mereka membuktikan bahwa liburan tak harus pergi jauh cukup dengan merawat budaya sendiri.
Leave a Comment