Rujak Cingur di Jombang Kota, Mantul dan Recommended

Rujak Cingur, di Jalan Seroja Desa/ Kecamatan/ Kabupaten Jombang, Sabtu (26/9/2020). (Foto: Anggraini)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Keragaman kuliner di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pasti ada penganan tradisional yang masih banyak peminat. Salah satunya, rujak cingur. Mafhumnya, rujak terdiri dari irisan timun, kerahi (krai), tempe, tahu, kangkung dan kecambah/ taoge, kacang panjang masak direbus.

Sedangkan cingur, merupakan tambahan lauk. Yakni irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke rujak. Kalau di Jombang, biasanya ditambah beberapa macam buah seperti kedondong, bengkuang, nanas, atau mangga muda.

Baca Juga

Bahan irisan tersebut, dicampur dengan bumbu petis, kacang goreng, cabai sesuai selera, irisan pisang kelutuk (pisang biji masih muda), gula merah, garam, yang diuleg dan sesekali dituang air matang secukupnya untuk mengencerkannya.

Jika ingin kenyang, cukup ditambah lontong atau nasi putih sekalian. Heemm, pasti Anda membayangkan nikmatnya menyantap rujak. Apalagi disantap pada siang hari. Lebih lagi bagi penyuka pedas, anda akan merasakan sensasi mulut terbakar, sembari keringat mengucur.

Ada salah satu bedak rujak cingur yang cukup recommended. Yakni di Jalan Seroja, Desa/ Kecamatan/ Kabupaten Jombang. Di sini, rujak cingur disajikan dengan pincuk daun pisang. Ternyata, rujak cingur di warung ini sudah ada sejak 1972, dan yang saat ini merupakan generasi ketiga.

Harganya, ya memang agak sedikit tinggi dibanding di warung rujak yang bertebaran di desa-desa di wilayah Kabupaten Jombang. Di warung milik Dwi ini, rujak cingur dibandrol Rp 15 ribu per porsi.

“Ya harga segitu, karena memang cingur-nya asli. Bukan cecek (kulit sapi). Uniknya, kita masih menyajikan dengan pincuk daun pisang,” ungkap Dwi kepada KabarJombang.com, Sabtu (26/9/2020).

Dikatakannya, langganannya dari berbagai kalangan. Ia menilai karena rujak merupakan kuliner tradisional ini masih banyak diminati. Sejak pandemi Covid-19, Dwi mengaku omzetnya mengalami penurunan 50 persen bahkan lebih. Saat sebelum pandemi, ia mampu meraup Rp 1,5 kita per hari, dan selama pandemi hanya sekitar Rp 500 ribu tiap harinya.

“Kadang ya sepi banget. Pendapatan jauh sekali jika dibanding sebelum pandemi. Kalau buka dan tutupnya, sama. Yakni mulai jam 10.00 sampai 16.00 WIB,” akunya.

Penikmat dan langganan rujak cingur-nya juga tidak kaleng-kaleng. Banyak dari luar kota yang sedang berkunjung ke Jombang. Seperti Kediri, Mojokerto, Nganjuk, Tulungagung, dan dari beberapa pondok pesantren.

“Meski saya yang meneruskan, saya jamin rasa rujak cingur di sini tidak berubah. Karena memang resep dari dulu,” pungkasnya.

Sementara Atul (28) salah satu pengunjung rujak cingur di warung Dwi mengaku, kerap mampir menyantap rujak cingur tersebut kala berada di Jombang Kota.

“Iya sering mampir jika berada di Jombang Kota. Dulu sebelum Corona, malah pernah antre karena banyak pembeli. Nah, saat giliran saya, lha kok sudah habis. Kalau sekarang ada Corona, jadinya pengunjung agak longgar,” kisah Atul yang pernah kehabisan rujak meski sudah mengantre.

INSTAGRAM

Berita Terkait