Ribut-ribut Soal ‘Anjay’, Begini Kata Pemerhati Bahasa dan Budaya di Jombang

polemik kata anjay
Dosen Sastra dan Sekretaris Prodi Bahasa Indonesia STKIP Jombang, Mu'minin, Kamis (3/9/2020). (Foto: Anggraini Dwi S.)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Kata anjay yang sempat trending di Twitter, menjadi polemik panjang. Netizen ribut, mulai dari iseng sampai yang ahli di bidang bahasa membahasnya di medsos.

Lalu bagaimana duduk perkara pemakaian kata anjay?

Dosen sastra Bahasa Indonesia , Mu’minin, menyebut munculnya kata anjay merupakan buah dari kebebasan berekspresi dan berbahasa. Dia menilai, semua orang termasuk generasi meilenial berhak menciptakan kata-kata tertentu sesuai dengan komunitasnya.

Menurutnya, kata anjay sah-sah saja. Hal itu karena pemaknaan sebuah kata harus dilihat dari latar belakangnya, ada teks, dan konteks seperti apa.

Mu’minin mengatakan, bahasa itu memiliki beberapa istilah yang salah satunya yaitu arbiter (mana suka), yang dalam penggunaanya harus disetujui oleh kelompok (konvensional) dan disetujui kelompok pemakai bahasa.

“Kata itu dinamis ya, mungkin kata jancuk menurut orang Jawa itu bermakna kurang bagus dan kasar hingga menimbulkan sesuatu yang tidak enak. Sehingga, kata tersebut mengalami peralihan menjadi anjay dan ternyata diterima masyarakat,” ujar Mu’minin saat ditemui dikantor Prodi Bahasa Indonesia STKIP Jombang, Kamis (3/9/2020).

Selain itu, lanjut Mu’minin, bahasa juga memiliki perjalanan waktu, dinamis. Dalam pemaknaan dan arti suatu kata bisa tidak sama antara sekarang dan dulu. Karena dalam bahasa ada generalisasi (perluasan makna), spesifikasi, ameliorasi, dan peyorasi.

Kata anjay barangkali dulunya bermakna kasar seperti kata jancuk, tapi sekarang lebih dihaluskan (ameolirasi) yang juga diikuti oleh asal muasal dari munculnya kata anjay itu sendiri.

“Kelompok yang menolak kata anjay, sebetulnya mereka berpedoman pada hal-hal yang sifatnya formalitas,” kata laki-laki yang juga sekretaris Prodi Bahasa Indonesia STKIP Jombang.

Mu’minin menegaskan, lepas dari ribut-ribu soal anjay, dia menganjurkan masyarakat untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Maksudnya, baik itu sesuai situasi dan kondisi, sedangkan benar itu hubungannya dengan kebakuan menurut pedoman yang ditentukan.

“Tanpa ada bahasa tidak akan ada kehidupan dan manusia membutuhkan itu,” ungkapnya.

Sementara pegiat budaya, Dian Soekarno, menyebut kata anjay yang semula merupakan jargon komunitas tertentu, yakni komunitas milineal, awalnya adalah diksi umpatan.

Karena itu, menurutnya, kata itu tidak sepatutnya terekspos untuk komunitas di luar komunitas yang bersangkutan.

“Barangkali itu tidak masalah bagi komunitas tertentu, tapi kalau itu terekspos pada anak-anak yang semestinya dijauhkan dari kekerasan dalam bentuk apapun, maka tentu akan menimbulkan masalah. Apalagi kata itu keluar dari seorang publik figur yang tayangannya bisa dilihat oleh siapa saja,” terang Dian pemangku Sanggar Tari Lung Ayu itu pada Kamis ( 3/9/2020) siang.

 

  • Whatsapp

INSTAGRAM

Berita Terkait