Ragam ‘Kupatan’ di Beberapa Desa di Jombang

Kenduri 'Kupatan' di salah satu musala di Desa Mayangan Kecamatan Jogoroto.
  • Whatsapp

JOMBANG, Kabarjombang.com – Selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat Jombang umumnya membudayakan mengenal satu lagi hari raya, yakni hari raya Kupat atau Kupatan. Lazimnya, Kupatan digelar pada hari ke delapan pada bulan Syawal.

Tak seperti hari raya Idul Fitri atau Idul Adha yang dilakukan dengan cara yang seragam yakni salat hari raya setelah matahari terbit, Kupatan dilaksanakan dengan cara dan waktu yang beragam.

Baca Juga

Sebagian warga memulai Kupatan pada awal masuk hari sesuai penanggalan hijriah, yakni sore atau malam hari. Sebagian yang lain memulai pada pagi keesokannya.

Masyarakat di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto misalnya. Mereka memilih merayakan Kupatan setelah Salat Subuh.

“Tradisi di daerah kita setelah Salat Subuh langsung makan bareng di musala atau masjid,” kata Mansyur Abidin, salah satu tokoh setempat kepada Kabarjombang.com, Ahad (31/5/2020).

Dikatakannya, saat berangkat salat berjemaah masyarakat di desa Mayangan dengan sukarela membawa ketupat sekalian lauk pauknya ke musala dan masjid.

Sebelum makan bersama, salah seorang tokoh yang dituakan memimpin doa untuk leluhur dan keselamatan masyarakat desa. Setelah itu barulah acara makan ketupat bersama dilakukan.

“Dulu acaranya tidak habis Salat Subuh begini, sekitar pukul 6-7 pagi. Karena pada jam segitu jemaah sudah ada yang berkegiatan maka dimajukan,” tambahnya.

Mansyur mengatakan, kegiatan kupatan tahun ini hanya diikuti oleh warga desa setempat saja. Karena masih masa Covid 19. Warga yang datangpun diminta cuci tangan dan tidak berdesak-desakan.

“Biasanya ada perantau mudik, sekarang agak sepi,” ujarnya.

Perayaan lebaran ketupat di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan berbeda lagi. Acara di desa tersebut dilakukan setelah Salat Magrib dan digelar di balai desa dan sebagian di musala.

 

Warga bersiap untuk kenduri ‘Kupatan’ di Balai Desa Plabuhan Kecamatan Plandaan.

 

Menurut Sekretaris Desa Plabuhan Kuswanto perbedaan tempat ini karena ada beberapa dusun yang letaknya jauh dari balai desa.

“Acara di masjid, musala atau di balaidesa semua sama, yang penting makna hari raya ketupat melekat. Saling memaafkan dan meleburkan kesalahan sesama warga,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk membuat ketupat masyarakat secara gotong royong dengan tetangga masing-masing. Sebelumnya, salah satu warga mengambil janur di pohon kelapa.

“Kadang ada juga yang beli ketupat bagi yang sibuk, tapi banyak yang buat sendiri beberapa hari sebelumnya,” ceritanya.

Kuswanto berharap acara lebaran ketupat ini membuat warganya bertambah rukun dan kompak. Dalam pembangun desa kedepan dua hal ini sangat penting.

Ia meminta warganya saling menguatkan satu sama lain. Terutama selama Covid 19. Bentuk perhatian tetangga kepada tetangga lain sangat perlu. Sehingga semua bisa keluar dari wabah ini dengan selamat.

“Kita berharap desa tercinta Plabuhan aman tentram kertoraharjo gemah ripah lohjinawi. Apalagi selama Covid 19, mari saling menjaga dan mengingatkan demi kebaikan bersama,” pinta Kuswanto.

Sementara itu, Di Desa Pucangrejo, Kecamatan Wonosalam acara makan-makan ketupat dilakukan hari raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal 1441 H sepekan yang lalu.

“Tidak ada kalau di Pucang Rejo acara kayak begitu (ketupat),” tutup warga setempat bernama Arik.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait