Putra Sulung Gus Im Sebut Ayahnya Sosok Berprinsip dan Visioner

Abdul Aziz Wahid, putra sulung Gus IM, saat wawancara dengan awak media di Ponpes Mamba'ul Ma'arif, Denanyar Kabupaten Jombang. (Foto: Anggit Puji Widodo).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Berbeda dengan pandangan orang yang menyebut mendiang KH Hasyim Wahid (Gus Im) sebagai sosok yang misterius, anak pertama Gus Im, Abdul Aziz Wahid, memandang almarhum adik Gus Dur itu sebagai sosok yang berprinsip dan visoner.

“Abah adalah sosok yang independen, zuhud dan berprinsip juga visioner. (Dia) Punya pandangan ke depan yang luar biasa, di atas batas toleransi orang lain pada umumnya,” kata Abdul Aziz Wahid, kepada awak media usai pemakaman, Sabtu (1/8/2020) malam.

Baca Juga

Jadi, apapun yang dilakukan ayahnya semasa hidup adalah prinsip yang benar-benar tidak bisa di kompromi, apa yang dilakukan itu yang akan diperjuangkan.

Meskipun keras dalam berprinsip, Aziz menyebut ayahnya merupakan sosok yang bisa dikatakan romantis dan humoris.

“Di lain sisi beliau adalah orang yang romantis dan humoris, berwawasan sangat luas, masalah agama, budaya, ekonomi, geopolitik. Bahkan saya pun ketika dalam satu waktu sering belajar ke ayah,” ungkapnya.

Soal ayahnya yang sering disebut misterius dan jarang muncul ke permukaan, ia menanggapi enteng.

“Beliau itu bukan orang yang misterius. Beliau tidak ingin dikenal sebagai figur yang sering manggung. Tidak ingin dikenang, bekerja tanpa perlu diketahui dan tanpa pamrih,” jelasnya.

Meskipun ayahnya berasal dari lingkungan pesantren, Aziz menyebut ayahnya bukan tidak berpolitik, pernah masuk salah satu partai politik pada tahun 90-an.

“Beliau bukan tidak berpolitik. Pada tahun 1999, pernah di salah satu partai politik, bukan di PKB. Mungkin karena independensi beliau, prinsip beliau tidak bisa di kompromi, sampai kapan pun akan begitu,” kata pria yang pernah kuliah S1 Hukum di Universitas Indonesia (UI) itu.

Sebagai seorang ayah, dikatakan Aziz, cara mendidik Gus Im kepada anak-anaknya unik.

“Beliau orang yang visioner. Dari kecil, tahun 80-an ketika anak-anaknya lahir cara mendidik beliau sangat visioner. Bisa dianalogikan distance learning (jarak jauh). Jadi meskipun jauh ada suatu hal diajarkan. Dan apapun diajarkan, kalau terhadap anak ya normatif, tentang prinsip dan juga keadilan,” ujarnya menambahkan.

Pada masa menjelang akhir hayatnya, Aziz mengungkapkan, dia tidak terlalu sering berkomunikasi, karena kondisi ayahnya naik turun.

“Kondisi beliau naik turun, akhirnya kritis. Interaksi dibatasi oleh dokter. Salah satu pesan beliau terakhir salah satunya adalah dimakamkan di sini (Ponpes Mamba’ul Ma’arif),” pungkasnya.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait