KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang saat diwawancarai. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com — Menjelang pelaksanaan muktamar Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam terus memperkuat komunikasi dengan para kiai sepuh serta jajaran struktural organisasi. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang ini menempuh langkah konsolidasi melalui silaturahmi sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan.
Dalam keterangannya di Denanyar, Selasa (14/4/2026), cucu KH Bisri Syansuri tersebut menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu nyaman dengan istilah pencalonan dalam konteks NU. Ia menilai, dinamika organisasi keagamaan itu lebih mengedepankan pengabdian dibandingkan kontestasi.
“Di NU itu perspektifnya adalah pengabdian. Karena itu saya lebih memilih menyebutnya sebagai ikhtiar mencari kepercayaan,” ujar Gus Salam.
Ia menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir dirinya aktif bersilaturahmi ke sejumlah pesantren dan tokoh ulama, khususnya di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Kunjungan tersebut, katanya, bertujuan untuk memohon doa sekaligus restu sebagai bekal dalam menjalankan amanah organisasi.
Selain menjalin hubungan dengan para masyayikh, Gus Salam juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan pengurus wilayah (PW) dan pengurus cabang (PC) terus dilakukan. Ia menargetkan dapat menjangkau sebagian besar struktur organisasi sebelum muktamar digelar.
Secara tidak langsung, ia juga menyoroti pentingnya kepastian jadwal dan lokasi muktamar. Menurutnya, kejelasan tersebut dibutuhkan agar roda organisasi dapat berjalan optimal, mengingat masih adanya kepengurusan di tingkat daerah yang belum definitif.
Ia menambahkan bahwa kondisi sejumlah cabang yang masih berstatus karateker atau kepengurusannya telah habis masa berlaku dinilai dapat menghambat kinerja organisasi secara keseluruhan.
Lebih jauh, Gus Salam menekankan perlunya rekonsiliasi internal sebagai fondasi utama memperkuat NU ke depan. Ia berpandangan bahwa perbedaan adalah hal wajar, namun harus dikelola agar tidak menimbulkan perpecahan.
“Yang paling prinsip adalah rekonsiliasi total. NU ini organisasi besar dengan kepercayaan umat yang tinggi, sehingga persatuan dan kebersamaan harus dijaga,” tegasnya.
Dukungan terhadap langkah Gus Salam juga datang dari kalangan alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar. Pembina Ikatan Keluarga Alumni, Sholahudin Fathurohman, menyebut pihaknya bersama dzuriah keluarga besar KH Bisri Syansuri telah bermusyawarah dan sepakat mendorong Gus Salam untuk berkiprah dalam muktamar.
Ia mengatakan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta legitimasi kultural di lingkungan pesantren.
“Kami sepakat meminta beliau untuk maju. Secara keilmuan dan kapabilitas, kami tidak meragukan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa alumni tidak memiliki hak suara dalam muktamar. Oleh karena itu, dukungan yang diberikan lebih bersifat moral melalui doa dan upaya sesuai kemampuan.
Menurutnya, harapan utama dari dukungan tersebut adalah agar proses yang dijalani dapat membawa manfaat dan kebaikan bagi NU di masa mendatang.
Leave a Comment