Petani Bareng Jombang Keluhkan Kurangnya Jatah Pupuk Bersubsidi

Petani di Kecamatan Bareng, Jombang, sedang berada di sawah miliknya.
  • Whatsapp

BARENG, KabarJombang.com – Sejumlah petani di Dusun/Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, mengeluhkan kurangnya jatah pupuk bersubsidi. Ini seperti dialami Gunari (40) petani setempat. Kurangnya jatah pupuk menyebabkan tanaman milik petani kurang subur dan terserang hama wereng.

Ia mengatakan, sawah seluas 100 bata dalam satu kali musim tanam, hanya mendapatkan jatah pupuk sebesar 17 kilogram jenis Urea, 18 kilogram jenis Ponska, 15 kilogram jenis ZA.

Baca Juga

“Padahal 100 bata itu bisa menghabiskan 1 kwintal pupuk. Kurangnya sekitar 60 – 70 kilogram, Akhirnya harus disiasati dengan beli pupuk nonsubsidi, dengan harga lebih mahal ini,” bebernya.

Selain itu, Gunari mengatakan, pembagian pupuk di masing-masing daerah tidak sama. Seperti di Dusun Tebel, jatah pupuk bersubsidi untuk lahan per 100 bata hanya mendapatkan 15 kilogram, setiap jenis pupuk bersubsidi. Hanya saja, ia tak mengetahui secara pasti pijakan yang digunakan sehingga terjadi pembeda dalam pembagian pupuk tersebut.

“Nah ini kan aneh ya, masing – masing daerah kok lain-lain. Harusnya ini ada aturannya. Daerah Mundusewu, Tebel, sama Murangagung, sudah beda jatahnya,” paparnya.

Gunari menjelaskan, untuk luas lahan 500 bata yang dimilikinya, mendapatkan jatah hanya 6 atau setara dengan 3 kwintal. Sedangkan lahan seluyas itu membutuhkan 5 sampai 6 kwintal pupuk.

“Butuhnya 5 kwintal, dapatnya 3 kwintal. Kurangnya kan 2 kwintal, lha ini kurangnya harus bagaimana,” imbuhnya.

Gunari berharap adanya transparansi pemerintah, terkait stok pupuk yang ada dengan jatah yang diterima. Selain itu juga dengan biaya perawatan pupuk yang mahal, berharap harga ketika diimbangi dengan kenaikan.

“Intinya saat ini, sebernernya pupuk dipabrik ada apa enggak? Kalau pemerintah produksi pupuk itu buat apa sebenarnya, kan selazimnya buat kebutuhan petani, nah ini kan jadinya membuat kita resah. Misal harga panen dapat Rp 400 ribu, pupuknya habis Rp 500 ribu, kan jadinya petani tekor,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait