Panen melon hidroponik di Greenhouse Pondok Melon Gondangmanis, Bandarkedungmulyo, Jombang. (Kevin Nizar)
BANDARKEDUNGMULYO, KabarJombang.com – Lahan yang sebelumnya tidak produktif disulap menjadi kawasan greenhouse budidaya melon premium dengan sistem hidroponik di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang.
Di tempat yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Melon Gondangmanis itu, tanaman melon dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Konsep tersebut memungkinkan tanaman memperoleh pasokan air dan nutrisi secara terkontrol melalui sistem sirkulasi.
Pemilik greenhouse, Tri Mardi Walyono, mengatakan usaha tersebut baru berjalan sekitar tiga bulan. Meski masih tergolong baru, budidaya melon hidroponik yang dikembangkan mulai menunjukkan hasil.
“Ini baru berjalan sekitar tiga bulan. Awalnya dari lahan yang tidak produktif, kemudian kami manfaatkan untuk greenhouse melon hidroponik,” kata Tri Sabtu (26/9/2026).
Menurut Tri, terdapat beberapa metode hidroponik yang dapat digunakan dalam budidaya melon. Di antaranya sistem fertigasi tetes dengan media padat, Nutrient Film Technique (NFT), dan DFT yang menggunakan media cair.
Pada sistem DFT, talang ditempatkan dalam posisi datar. Larutan nutrisi dialirkan dan disirkulasikan dari bak penampungan menuju talang, kemudian kembali lagi ke bak kontrol.
Sistem tersebut dinilai memiliki keunggulan karena larutan nutrisi dapat terus bersirkulasi. Bahkan, menurut Tri, ketika terjadi pemadaman listrik selama satu hingga dua hari, tanaman masih memiliki cadangan larutan nutrisi di dalam sistem.
“Kalau DFT, ketika listrik mati satu sampai dua hari masih relatif aman karena masih ada air atau larutan nutrisi yang berada di dalam talang,” ujarnya.
Berbeda dengan sistem NFT yang mengalirkan larutan nutrisi dalam lapisan tipis pada talang yang dibuat miring, sistem DFT menggunakan talang dengan posisi datar sehingga terdapat genangan larutan nutrisi di dalamnya.
Seluruh kebutuhan nutrisi tanaman dikontrol melalui bak preparasi. Larutan kemudian dipompa menuju talang dan setelah melewati area perakaran, kembali ke bak kontrol untuk disirkulasikan.
Menurut Tri, sistem tersebut juga membuat pengawasan tanaman lebih sederhana. Petani tidak perlu melakukan pengecekan satu per satu seperti pada sistem fertigasi tetes.
“Nutrisinya kami kontrol, baik pH maupun PPM-nya. Semua masuk ke bak preparasi, kemudian disirkulasikan menggunakan pompa. Jadi kami cukup mengontrol bagian inlet dan outlet,” jelasnya.
Salah satu varietas yang dikembangkan di Pondok Melon Gondangmanis adalah melon premium jenis Lavender.
Budidaya dilakukan dengan seleksi buah. Setiap tanaman dipertahankan hanya satu buah agar nutrisi yang diberikan dapat lebih terkonsentrasi pada buah yang dipelihara.
Tri menyebut tingkat keberhasilan tanaman menghasilkan buah mencapai 100 persen pada budidaya yang dijalankan.
“Setiap tanaman kami seleksi dan hanya diambil satu buah,” katanya.
Saat ini terdapat dua greenhouse yang telah beroperasi. Greenhouse pertama memiliki kapasitas sekitar 1.000 tanaman, sedangkan greenhouse kedua sekitar 1.200 tanaman.
Sementara itu, satu greenhouse tambahan sedang dibangun. Greenhouse ketiga tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 2.800 tanaman dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua minggu.
Dengan pengembangan tiga greenhouse tersebut, kapasitas produksi Pondok Melon Gondangmanis diproyeksikan meningkat secara signifikan.
Dalam satu greenhouse, produksi dapat mencapai sekitar 2 ton melon. Dengan pengembangan tiga greenhouse, total produksi dalam satu periode panen ditargetkan mencapai sekitar 10 ton.
Melon tersebut memiliki masa tanam hingga panen sekitar 65 hari. Bobot buah rata-rata berada di kisaran 2 kilogram per buah, meski menurut Tri, sebelumnya terdapat buah yang mampu mencapai bobot 3 hingga 4 kilogram.
Dari sisi pemasaran, produk melon Pondok Melon Gondangmanis mulai mendapatkan respons dari konsumen.
Tri mengatakan, sebagian pembeli bahkan datang langsung ke lokasi untuk membeli melon. Konsumen tersebut tidak hanya berasal dari Jombang, tetapi juga sejumlah daerah lain seperti Mojokerto, Blitar hingga Surabaya.
Menariknya, pemasaran tersebut sejauh ini banyak berlangsung secara langsung tanpa promosi besar-besaran melalui media sosial.
“Alhamdulillah, banyak pembeli yang langsung datang ke sini. Kami belum banyak melakukan promosi melalui media sosial,” ungkapnya.
Untuk harga jual, melon dipasarkan berdasarkan kualitas atau grade. Harga Grade A mencapai sekitar Rp19 ribu per kilogram, Grade B sekitar Rp18 ribu per kilogram, sedangkan Grade C sekitar Rp15 ribu per kilogram.
Untuk sistem penjualan kiloan atau hantaran, harga berkisar Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per kilogram, bergantung pada varietas.
Dengan harga jual tersebut, budidaya melon hidroponik menjadi salah satu upaya Tri memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi lahan usaha bernilai ekonomi.
Dari sisi biaya produksi, modal atau harga pokok produksi (HPP) yang dihitung berada di kisaran Rp7 ribu per tanaman untuk satu buah.
Pengembangan Pondok Melon Gondangmanis pun masih terus dilakukan. Penambahan greenhouse menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas usaha budidaya melon premium di wilayah Bandarkedungmulyo, Jombang.
Nama Pondok Melon Gondangmanis sendiri dipilih dengan mengangkat identitas wilayah Gondang Manis dan karakter Jombang yang dikenal sebagai kota santri dan memiliki banyak pondok pesantren.
Melalui konsep tersebut, Tri membawa satu tagline yang menjadi identitas produknya, ‘Manisnya Asli Gondang Manis.’
Leave a Comment