Pertanian

Peternak Ayam Petelur di Desa Tinggar Jombang Ini Buktikan Potensi Desa Bisa Jadi Sumber Ekonomi Mandiri

BANDARKEDUNGMULYO, KabarJombang.com – Bagi Fatkurrohman (60), masa pensiun bukan akhir perjalanan, melainkan awal babak baru dalam hidup. Mantan perangkat Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang ini, justru menemukan gairah baru sebagai peternak ayam petelur mandiri yang kini dikenal sukses di lingkungannya.

Lima bulan setelah melepas jabatan di pemerintahan desa, Fatkurrohman memutuskan menekuni dunia peternakan, bidang yang sebelumnya tak pernah ia sentuh. Bermodal tabungan pribadi sekitar Rp150 juta dan pinjaman dari kerabat, ia membangun kandang sederhana di belakang rumahnya.

“Dulu saya cuma mampu pelihara seribu ekor ayam. Sekarang alhamdulillah sudah empat ribu ekor lebih,” ujarnya pada Jumat (7/11/2025).

Tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang peternakan, Fatkurrohman belajar secara otodidak. Ia mengamati cara beternak milik keluarganya di Kediri yang lebih dulu berpengalaman, lalu menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya sendiri.

“Prinsip saya sederhana, amati, tiru, modifikasi. Kalau gagal, ya perbaiki. Yang penting terus belajar,” katanya.

Kini, dari sekitar 3.000 ekor ayam yang sedang produktif, ia mampu menghasilkan lebih dari 140 kilogram telur per hari. Hasil panen itu ia jual ke tengkulak dan pedagang dari berbagai wilayah, seperti Gudo dan Megaluh.

Harga jual telur di tingkat kandang yang stabil di kisaran Rp26 ribu per kilogram menjadi kabar baik baginya. “Kalau harga pakan nggak melonjak, peternak kecil seperti saya masih bisa bernafas lega,” ungkapnya.

Salah satu hal yang membuat usaha Fatkurrohman menonjol adalah caranya menjaga kebersihan kandang. Ia rutin menyemprot cairan fermentasi EM4 seminggu sekali untuk mengurai kotoran dan mencegah bau menyengat.

“Selain biar kandang nggak bau, ayam juga jadi lebih sehat. Lingkungan sekitar pun nyaman,” jelasnya.

Meski bisnisnya berkembang, tantangan tetap ada. Harga pakan, terutama jagung, sering kali melonjak tajam. Dari yang semula Rp5.500 per kilogram, kini bisa mencapai Rp7.000.

“Kalau jagung naik, untung langsung tergerus. Makanya saya berharap ada koperasi peternak yang bisa bantu suplai jagung dengan harga lebih stabil,” ujarnya penuh harap.

Usaha Fatkurrohman kini menjadi inspirasi bagi warga Desa Tinggar dan sekitarnya. Ia menunjukkan bahwa masa pensiun bukan penghalang untuk tetap produktif dan mandiri.

“Yang penting niat dan sabar. Kalau kita tekun, pasti ada hasilnya,” tuturnya menutup perbincangan.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar