Pertanian

Lumbung Paceklik di Bareng Jombang Sejak 1963 Ini Masih Eksis, Jadi Penyangga Pangan dan Ekonomi Petani di Desa

BARENG, KabarJombang.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertanian, sebuah lumbung paceklik peninggalan leluhur di Dusun Banjarsari Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, masih berdiri kokoh dan terus dimanfaatkan hingga kini.

Lumbung yang didirikan pada 1963 tersebut, tetap berperan penting sebagai penopang pangan dan ekonomi petani, khususnya pada pasca musim tanam atau perawatan tanaman padi.

Jika dahulu difungsikan sebagai cadangan pangan saat krisis dan kelaparan, kini lumbung paceklik mengalami pergeseran peran. Selain menyimpan gabah, lumbung juga menjadi sumber pinjaman gabah maupun dana bagi petani anggota untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Pinjaman itu umumnya digunakan untuk membeli pupuk, membiayai perawatan sawah, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Pengelola lumbung paceklik, Samiaji, menjelaskan bahwa sistem pengelolaan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antarpetani. Gabah yang tersimpan merupakan hasil setoran anggota yang berasal dari warga setempat.

Setoran dilakukan dengan sistem “hutang simpan”, yakni gabah dititipkan di lumbung dan dapat diambil kembali sewaktu-waktu sesuai kebutuhan, dengan potongan administrasi yang telah disepakati bersama.

“Awalnya lumbung ini murni untuk cadangan pangan saat paceklik. Sekarang dialihkan untuk membantu petani ketika masa perawatan, karena setelah tanam pasti butuh biaya,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (29/1/2026).

Lumbung paceklik tidak dibuka setiap saat. Pengoperasiannya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat musim tanam setelahnya dan saat musim paceklik, melalui musyawarah anggota ketika ada kebutuhan mendesak.

Pinjaman yang diterima petani wajib dikembalikan setelah panen, baik dalam bentuk gabah maupun uang.

Saat ini, kapasitas penyimpanan lumbung mencapai sekitar 10 hingga 15 ton gabah. Jumlah anggota terdaftar berkisar 80 hingga 100 orang yang berasal dari tiga dusun, yakni Dusun Banjarsari, Tegalsari, dan Kedung Galeh.

Namun, anggota yang aktif secara rutin sekitar 60 orang. “Yang lainnya biasanya baru aktif kalau lumbung dibuka,” tambah Cak Mijek sapaan akrabnya.

Secara historis, lumbung paceklik ini lahir dari keprihatinan para sesepuh desa terhadap krisis pangan pada era 1960-an. Saat itu, warga secara swadaya mengumpulkan beras sedikit demi sedikit bahkan hanya satu cangkir per rumah yang kemudian dikelola melalui sistem arisan.

Mulai dari arisan beras, arisan kambing, hingga arisan uang dan bumbun, sistem tersebut berkembang menjadi lumbung kolektif desa. “Semua ini murni inisiatif dan gotong royong masyarakat,” jelasnya.

Meski pola tanam saat ini memungkinkan petani panen hingga tiga kali dalam setahun, keberadaan lumbung paceklik tetap dinilai relevan.

Bagi petani Desa Bareng, lumbung paceklik bukan sekadar tempat penyimpanan gabah, melainkan simbol solidaritas, transparansi, dan ketahanan ekonomi yang tumbuh dari semangat gotong royong masyarakat desa.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar