Momen panen cengkeh di lahan milik Endon Siswoyo, petani cengkeh asal Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Jombang. (Istimewa)
WONOSALAM, KabarJombang.com- Harga cengkeh basah di tingkat petani di lereng Gunung Anjasmoro, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, tahun ini meningkat hingga Rp39 ribu per kilogram. Namun, kenaikan harga tersebut justru berbanding terbalik dengan hasil panen petani yang merosot tajam dibandingkan musim sebelumnya.
Kondisi tersebut dirasakan Endon Siswoyo, petani cengkeh asal Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Jombang. Tahun ini, ia hanya mampu memanen sekitar 1-2 kuintal cengkeh. Padahal, ketika seluruh pohon di lahannya berbuah pada musim sebelumnya, hasil panennya bisa mencapai 6-7 kuintal.
“Panen tahun ini menurun drastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kalau berbuah semua bisa menghasilkan 6-7 kuintal. Tahun ini hanya sekitar 1-2 kuintal,” ucapnya, Sabtu (12/9/2026).
Di sisi lain, harga cengkeh basah saat ini berada di kisaran Rp39 ribu per kilogram. Harga tersebut naik sekitar Rp6 ribu dibandingkan musim sebelumnya yang berada di kisaran Rp33 ribu per kilogram.
Menurut Endon, kenaikan harga tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan cengkeh akibat tanaman yang tidak berbuah maksimal. Ketika produksi menurun, jumlah cengkeh yang masuk ke pasar ikut berkurang sehingga harga cenderung meningkat.
“Alhamdulillah, harga memang naik. Kalau cengkeh jarang berbuah, harga pasti naik. Tapi kalau panen raya, harga pasti turun. Itu sudah hal biasa bagi saya,” ujarnya.
Meski harga meningkat, kondisi tersebut belum otomatis membuat pendapatan petani ikut melonjak. Sebab, jumlah cengkeh yang dapat dipanen jauh lebih sedikit dibandingkan musim sebelumnya.
Endon mengelola lahan sekitar 4.500 meter persegi atau hampir setengah hektare. Di lahan tersebut terdapat sekitar 40 pohon cengkeh. Namun, total produksi tahun ini hanya sekitar 2 kuintal.
Ia menyebut produktivitas setiap pohon tidak sama. Kondisi kesehatan tanaman, kesuburan tanah, usia pohon, hingga cuaca menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi hasil produksi cengkeh.
Menurut Endon, pohon cengkeh yang berusia lebih dari 35 tahun masih mampu menghasilkan puluhan kilogram apabila kondisinya sehat dan produktif.
“Kalau umur pohon di atas 35 tahun dan masih subur, bisa menghasilkan 60 kilogram lebih dalam satu pohon,” jelasnya.
Endon membudidayakan cengkeh jenis Zanzibar dan cengkeh merah. Namun, pada musim panen tahun ini, tanaman di lahannya tidak mampu berproduksi seperti musim sebelumnya.
Ia mengatakan kondisi cuaca yang sulit diprediksi turut dirasakan petani dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman cengkeh.
Musim panen cengkeh di kawasan Wonosalam umumnya berlangsung mulai akhir Juli hingga awal September. Waktu panen tidak berlangsung serentak karena dipengaruhi kondisi geografis dan ketinggian lahan.
Tanaman cengkeh di wilayah yang lebih rendah biasanya memasuki masa panen lebih awal. Sementara tanaman yang berada di kawasan lereng dengan ketinggian lebih tinggi dapat memasuki masa panen setelahnya.
Bagi Endon dan petani cengkeh lainnya, musim panen tahun ini menghadirkan kondisi yang berlawanan. Harga cengkeh mengalami kenaikan, tetapi produksi yang diperoleh justru turun tajam.
Kenaikan harga tersebut pun belum sepenuhnya mampu mengimbangi kehilangan produksi yang dialami petani.
“Meskipun harga naik, itu juga belum tentu menutup produksi. Karena hasil panen anjlok,” pungkas Endon.
Leave a Comment