Foto : Kepala Kasatkorwil Banser Jawa Timur, H. Rizza Ali Faizin. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com – Di tengah tekanan ekonomi dan ancaman krisis pangan global, sekelompok pemuda dari organisasi keagamaan di Jawa Timur justru memilih turun ke lapangan. Bukan dalam bentuk aksi demonstrasi, melainkan dengan cangkul dan benih di tangan. Mereka adalah kader Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Timur, yang kini aktif membangun ketahanan pangan berbasis komunitas melalui gerakan bertajuk “Satu Rating Satu Ladang.”
Gerakan ini bukan sekadar slogan. Di sejumlah daerah seperti Jombang, Mojokerto, Lamongan, hingga Sidoarjo, para anggota Ansor-Banser mulai mengelola lahan kosong, membangun tambak, bahkan menjajaki pasar ekspor hasil pertanian dan perikanan. Di Desa Jambon, Sidoarjo, misalnya, mereka sukses membudidayakan rumput laut yang kini telah menembus pasar luar negeri.
Menurut Kepala Kasatkorwil Banser Jawa Timur, H. Rizza Ali Faizin, inisiatif ini merupakan respons konkret terhadap tantangan zaman. Ia menegaskan, ketahanan pangan bukan hanya urusan logistik, tapi juga menyangkut harkat dan martabat bangsa.
“Gerakan ini lahir dari kesadaran bersama. Tidak perlu menunggu bantuan, cukup mulai dari yang ada. Para kader punya potensi besar untuk menjawab tantangan pangan di lingkungan masing-masing,” ujar Kaji Rizza sapaan akrabnya, usai membuka pelatihan khusus Provost, Balantas, dan Bagana, Minggu (13/7/2025).
Di Lamongan, gerakan serupa juga bergulir. Lahan tidur disulap menjadi kolam budidaya ikan, dengan dukungan swadaya dan kolaborasi bersama pemerintah setempat. Model kolaboratif ini menjadi kekuatan baru: organisasi kepemudaan yang selama ini dikenal menjaga ideologi, kini menjadi pionir dalam ketahanan ekonomi rakyat.
Dalam waktu dekat, GP Ansor Jatim akan menggelar rapat koordinasi zona Arek yang mencakup Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan Jombang. Rapat ini akan menjadi wadah konsolidasi kader pelaku lapangan untuk saling berbagi pengalaman serta menyusun strategi bersama pemerintah daerah masing-masing.
“Koordinasi dengan pemerintah lokal itu kunci. Mulai dari tingkat RT, RW, kepala desa, kecamatan, hingga kabupaten harus dilibatkan. Gerakan ini bukan milik individu, tapi gerakan bersama,” tegas Rizza.
Meski tak banyak mendapat sorotan media, gerakan sunyi yang digagas Ansor-Banser ini mulai menunjukkan dampak nyata. Ia menjadi bukti bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari akar rumput dari semangat gotong royong, solidaritas, dan kepedulian anak-anak muda terhadap masa depan bangsa.
Leave a Comment