Foto : Launching percepatan swasembada gula nasional di Kesamben, Jombang. (Istimewa)
KESAMBEN, KabarJombang.com – Upaya meningkatkan ketersediaan gula nasional tahun ini mendapat dorongan kuat dari para petani tebu di Kabupaten Jombang. Ribuan petani secara mandiri telah memulai peremajaan tanaman tebu tua seluas 2.195 hektare, jauh sebelum program pemerintah diluncurkan secara resmi.
Langkah cepat petani tersebut kemudian menjadi latar pelaksanaan Gerakan Bongkar Ratoon dan Pengembangan Areal Tebu 2025 yang dipusatkan di lahan Gapoktan Wuluh, Kecamatan Kesamben, Rabu (3/12/2025). Agenda tanam perdana di Jombang itu dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah hingga pusat, termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Abdul Roni Angkat.
Bupati Jombang Warsubi menegaskan bahwa daerahnya merupakan salah satu penopang utama produksi tebu Jawa Timur. Pada 2024 lalu, Jombang mencatat perluasan areal tebu hingga 10.787 hektare dengan total produksi 787.246 ton. Kualitas tebu pun menunjukkan peningkatan, tercermin dari kenaikan rata-rata rendemen mencapai 7,11 persen.
Meski demikian, Warsubi mengakui masih banyak kebun berisi tanaman tua yang menurunkan produktivitas. Peremajaan melalui program bongkar ratoon diproyeksikan mampu mendongkrak hasil panen menjadi 80–100 ton per hektare.
“Kami ingin perubahan yang konkret. Selain bibit baru, percepatan distribusi pupuk bersubsidi dan dukungan alat mesin pertanian sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Wakil Gubernur Emil Dardak mengapresiasi langkah proaktif petani Jombang yang melakukan peremajaan secara swadaya. Menurutnya, kesigapan petani merupakan fondasi penting menuju swasembada gula.
“Komitmen mereka luar biasa. Pemprov telah mengusulkan agar petani yang sudah bergerak mandiri tetap mendapatkan dukungan operasional dari Kementan,” kata Emil.
Dalam kesempatan tersebut, Emil juga menyerahkan bantuan traktor roda empat sebagai dorongan percepatan mekanisasi. Ia menilai modernisasi alat pertanian akan mengurangi biaya produksi sekaligus memperbaiki efisiensi budidaya.
Selain untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, Emil menyebut peremajaan tebu membuka peluang pengembangan energi hijau. Ia menilai tebu memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol maupun biomethanol.
“Ke depan industri tebu tidak hanya bicara gula, tetapi juga energi terbarukan yang bisa memperkuat ketahanan energi nasional,” jelasnya.
Dengan kontribusi Jawa Timur yang menyumbang hampir setengah produksi gula Indonesia, peningkatan kinerja tebu di Jombang diharapkan mampu menstabilkan pasokan sekaligus menurunkan tekanan harga gula bagi masyarakat.
Leave a Comment