Pertanian

Berawal dari Pakan Kelinci, Indigo Vera Jadi Ladang Usaha Bagi Warga di Bareng Jombang

BARENG, KabarJombang.com – Tanaman indigo vera kini menjelma menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi berkat ketekunan seorang warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Awalnya hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak pribadi, tanaman ini justru berkembang menjadi usaha dengan pasar berskala nasional.

Salah satunya Kinun (32) warga setempat mengungkapkan, bahwa dirinya mulai menanam indigo vera sejak tahun 2019. Saat itu, tujuan utamanya hanya untuk mengurangi biaya pakan kelinci yang ia pelihara. Namun, seiring waktu, tanaman tersebut tumbuh subur dan hasil panennya melimpah hingga melampaui kebutuhan sendiri.

“Dulu niatnya cuma untuk pakan kelinci. Tapi karena hasilnya banyak, akhirnya saya coba jual,” ujarnya saat ditemui di kebun miliknya, Kamis (29/1/2026).

Indigo vera dikenal memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pakan alternatif berbagai jenis ternak. Selain kelinci, daun tanaman ini juga dikonsumsi kambing, sapi, domba, ayam, hingga entok. Bahkan kini, indigo vera mulai dilirik sebagai bahan campuran pakan ikan dalam bentuk pelet.

Dalam satu kali panen, Kinun mampu menghasilkan sekitar 200 kilogram daun indigo vera kering. Proses panen dilakukan secara berkala setiap dua sampai tiga bulan, karena pada usia tersebut daun sudah siap dipetik.

Untuk nilai jual, indigo vera kering dipasarkan dengan harga sekitar Rp45 ribu per kilogram. Sementara jika diolah menjadi tepung, harganya bisa mencapai Rp60 ribu per kilogram.

Dari segi perawatan, Kinun menyebut tanaman ini relatif mudah dibudidayakan. Ia mengaku tidak menggunakan bahan kimia dalam proses perawatannya.

“Cukup membersihkan gulma dan sesekali diberi pupuk kandang,” jelasnya.

Dalam memasarkan produknya, Kinun memanfaatkan jalur offline dan online. Penjualan langsung biasanya menjangkau wilayah Jawa Timur seperti Jombang, Mojokerto, Malang, Madiun, dan Sidoarjo. Sementara melalui penjualan daring, jangkauan pasarnya jauh lebih luas.

“Pesanan online sudah pernah kirim ke Aceh, Papua, Kalimantan, Sulawesi, sampai Jawa Barat,” katanya.

Tak hanya menjual daun kering dan tepung, Kinun juga menawarkan bibit indigo vera dalam berbagai bentuk, mulai dari setek, cangkok, hingga biji. Bibit hasil cangkok dijual dengan harga sekitar Rp15 ribu per batang.

Jumlah pesanan yang masuk melalui penjualan online bersifat tidak menentu. Pada masa ramai, permintaan bibit maupun daun bisa mencapai ratusan unit per hari. Meski begitu, seluruh proses produksi hingga pemasaran masih ia kelola sendiri.

Dari usaha budidaya indigo vera tersebut, Kinun mengaku mampu memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp3 juta per bulan, bahkan bisa lebih.

Baginya, indigo vera bukan sekadar tanaman pakan ternak, melainkan peluang usaha yang lahir dari pengalaman beternak serta keberanian melihat potensi pasar.

Selain jenis indigo vera, Kinun juga membudidayakan tumbuhan untuk pakan ternak jenis lainya diantaranya, trichantera gigantea dengan harga Rp23 ribu untuk cangkok, Rp1.900 setek. Sedangkan untuk daun kering ia jual dengan harga Rp40 ribu per kilogram.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar