by

Pengusaha Emping Jagung Khas Jombang, Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga Sarjana

Istri Bupati Jadi Pelanggan Setianya

KABARJOMBANG.COM – Pengusaha emping jagung yang menjadi salah satu makanan ringan khas Kabupaten Jombang, harus memutar otak untuk tetap bisa hidup ditengah persaingan makanan ringan kemasan yang lebih modern. Ditengah keterbatasan alat produksi, Hadi Wahyono (63) salah satu pengusaha emping jagung asal Dusun/Desa Sudimoro Kecamatan Megaluh ini, bahkan bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Dalam ceritanya, dia harus jatuh bangun untuk bisa mempertahankan usaha rumahan miliknya hingga bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana. “Alhamdullah bisa menyekolahkan anak hingga kuliah,” terangnya, Jumat (16/12/2016)

Meski begitu, dia mengeluhkan cuaca yang tak menentu. Sebab, dirinya sangat bergantung kepada cuaca untuk bisa terus memproduksi usaha emping jagung yang ditekuninya sejak tahun 1997 silam. Panasnya matahari, diperlukannya untuk bisa menjemur emping jagung usai dilakukan proses pengepresan jagung yang sudah diolah menjadi emping.

“Setelah kita lakukan proses perebusan dan pengepresan agar tekstur jagung menjadi tipis, kita juga memerlukan adanya sinar matahari untuk mengeringkannya. Sebab jika proses pengeringan tidak maksimal, maka akan berpengaruh kepada rasa emping jagung itu sendiri,” terangnya.

Selain itu, kendala alat produksi yang masih menggunakan cara manual, membuatnya tetap harus bergantung pada kondisi alam. Namun jika cuaca sedang mendung, usaha yang ditekuninya dengan modal awal Rp 5 juta itu, harus menunda produksinya.

“Jika hanya mengandalkan alat open biasa, itu tidak bisa. Sebab jika alatnya tidak canggih, justru akan merusak rasa dan tekstur empingnya,” cetus suami Alimatus Sabtiyah (55) ini kepada KabarJombang.com.

Ditambah lagi, jika curah hujan cukup tinggi, akan mempengaruhi jumlah produksi usaha emping jagung milliknya. “Jika musim kemarau kita bisa memproduksi hingga 80 kilogram per hari. Namun saat musim hujan, hanya bisa memproduksi 80 kilogram selama 2 minggu. Padahal saat musim hujan permintaan konsumen justru meningkat,” ujarnya.

Saat ditanya soal pendapatan usaha emping jagung, pria yang memiliki uban di rambutnya ini menceritakan, rata-rata hitungan per hari kita bisa menghabiskan emping jagung siap jual sebanyak 10 kilogram per hari. Jika dihitung, 1 kilo emping siap jual dihargai sekitar Rp 24 ribu. “Alhamdulilah, sehari rata-rata bisa sampai Rp 240 ribu. Itupun jika pembayaran tidak tersendat,” katanya.

Sebab dalam sistem pemasarannya, dirinya masih mengandalkan tenaga pribadi dengan cara menitipkan di toko-toko makanan yang ada di Kota Santri ini. “Disitu kita dibayar oleh pihak toko yang kita titipkan setelah semua barang sudah terjual. Kadang disitu ada yang nakal juga,” celetuknya.

Berbicara soal pelanggan, pengusaha dengan dua anak ini tak bisa memperhitungkan. Sebab, ada beberapa pelanggan setianya yang datang ke rumah untuk sekedar membeli emping jagung buatanya. Tak tanggung-tanggung, dia menuturkan, jika istri Bupati Jombang juga menjadi pelanggan setianya untuk sekdar mencari camilan.

“Bu Catur (Istri Bupati Nyono Suharli,red) juga sering memesan melalui ajudannya untuk dikirimi emping jagung. Dan itu yang mengantar saya sendiri. Apalagi dalam setiap acara, hampir emping saya diikutkan dalam sajian di meja,” ungkap Hadi.
Hal senada juga diungkapkan Bu Lukman (45), salah satu langganan yang terlihat di rumah Hadi. Menurutnya, rasa emping jagung milik Hadi memiliki ciri khas sendiri dan berbeda dengan emping jagug yang terbuat dengan proses mesin modern.

“Ada yang beda dalam rasanya. Sehingga itu yang membuat saya ketagihan,” celetuknya. (aan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya