Pamflet Muktamar Kebudayaan Lesbumi PBNU 2025 yang digelar di Jombang. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 di Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Pondok Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 12 hingga 14 Juni 2026 tersebut mengangkat tema ‘Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU dalam Krisis Peradaban Global’. Forum ini menjadi ruang pertemuan para akademisi, budayawan, ulama, dan aktivis untuk membahas berbagai persoalan strategis yang dihadapi bangsa dan dunia.
Ketua Panitia Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026, Suwasis atau Ki Wasis, mengatakan bahwa agenda tersebut tidak hanya bertujuan mengenang warisan budaya masa lalu, tetapi juga menjadi sarana merumuskan solusi atas tantangan zaman.
Menurutnya, berbagai persoalan global saat ini menuntut respons yang serius dari kalangan intelektual dan budaya, mulai dari krisis identitas, konflik geopolitik, kerusakan lingkungan, hingga perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
“Kita menghadapi disrupsi identitas, krisis geopolitik, krisis ekologis, ketidakpastian hukum ketatanegaraan yang sistemik-substantif, hingga perlombaan teknologi baru (emerging technology),” ujar Ki Wasis, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, forum tersebut menjadi upaya untuk menghidupkan kembali khazanah pemikiran pesantren dan pandangan para ulama terdahulu agar dapat berdialog dengan realitas kehidupan modern.
Dalam pelaksanaannya, muktamar dibagi menjadi empat komisi utama yang membahas sejumlah isu penting. Komisi pertama, yakni Komisi Khittah, fokus mengkaji kembali Qonun Asasi NU serta membahas posisi agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, komisi ini juga menyoroti pentingnya menjaga independensi moral dan otoritas spiritual Nahdlatul Ulama di tengah dinamika birokrasi dan sekularisasi.
Sementara itu, Komisi Geopolitik mengulas relevansi Fatwa Resolusi Jihad 1945 dalam konteks kekinian. Semangat perjuangan yang dahulu diwujudkan dalam perlawanan fisik kini dikaji sebagai bentuk “jihad peradaban” untuk menghadapi tantangan perang siber, ekonomi global, hingga pertarungan budaya.
Adapun Komisi Ekologi dan Organisasi membahas isu lingkungan hidup, terutama terkait keputusan Muktamar NU tahun 2015 yang mengharamkan aktivitas pertambangan yang merusak alam. Pembahasan tersebut dikaitkan dengan dinamika penerimaan konsesi tambang oleh PBNU pada periode kepengurusan 2022–2027.
“Forum ini mencari jalan keluar etis dan budaya, dengan pemantik dari pengurus PBNU, akademisi dan aktivis lingkungan,” kata Ki Wasis.
Komisi lainnya, yakni Aswaja an-Nahdliyyah dan Tantangan Emerging Technology, mengupas hubungan antara tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Menurut Ki Wasis, forum tersebut juga menjadi ruang refleksi mengenai faktor-faktor yang membuat sejumlah tradisi keagamaan mampu melahirkan kemajuan sains dan teknologi, sementara tradisi Sunni di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam bidang tersebut.
Selain sidang komisi, panitia juga menggelar diskusi panel nasional yang menghadirkan Ketua MPR RI Ahmad Muzani, intelektual NU KH Abdul Mun’im DZ, peneliti Muhammad Faisal, serta ekonom Bhima Yudhistira Adhinegara.
Dari seluruh rangkaian kegiatan, panitia menargetkan lahirnya sejumlah dokumen penting, di antaranya Manuskrip Kebudayaan 2026 yang berisi rekomendasi strategis bagi PBNU dan pemerintah, Manifesto “Kembali ke Akar”, serta Buku Putih Pemikiran yang disusun berdasarkan hasil pembahasan empat komisi.
Ki Wasis berharap muktamar tersebut dapat menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama untuk memperkuat peran sebagai penjaga nilai moral dan kebudayaan bangsa di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
“Kita ingin tumbuh tinggi, namun tetap kokoh tanpa tercerabut dari bumi tempat kita berpijak,” tuturnya.
Untuk mendukung semarak kegiatan, panitia turut menyelenggarakan sejumlah acara pendamping yang dapat diikuti masyarakat umum. Kegiatan tersebut meliputi pameran manuskrip dan buku kuno, pemutaran film karya maestro perfilman Indonesia Usmar Ismail, serta bazar produk UMKM lokal.
Leave a Comment