Momen Budiman Sudjatmiko ketika ziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah di Pesantren Tambakberas. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com– Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menilai keberanian melakukan pembaruan diperlukan pemerintah untuk menghadapi persoalan kemiskinan. Pandangan tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Tebuireng dan Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang, Sabtu (19/9/2026).
Dalam kunjungan itu, Budiman berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, serta makam KH Abdul Wahab Chasbullah di Pesantren Tambakberas. Ia bersilaturahmi dengan keluarga dan pengasuh pesantren.
Budiman menyebut pemikiran Mbah Wahab tentang keberanian mengambil langkah pembaruan memiliki keterkaitan dengan upaya pemerintah mencari solusi atas persoalan kemiskinan. Menurutnya, pendekatan penanganan kemiskinan perlu disesuaikan dengan perubahan kondisi masyarakat.
Ia menilai mempertahankan cara lama tanpa melakukan evaluasi dan pengembangan pendekatan dapat membatasi upaya penyelesaian persoalan sosial. Karena itu, pemerintah perlu memiliki keberanian untuk mencari terobosan yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kalau tidak ada nyali, keberanian untuk melakukan pembaruan dan ijtihad dari Mbah Wahab, mungkin NU tidak akan menjadi seperti sekarang,” ucap Budiman, Sabtu (19/9/2026).
Ia menggambarkan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai sosok yang mampu berpikir melampaui batas pemikiran pada masanya atau thinking out of the box. Sikap tersebut, kata Budiman, menjadi salah satu pelajaran penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan kebijakan di tengah perubahan zaman.
Selain Mbah Wahab, Budiman juga menyinggung warisan pemikiran Gus Dur yang pernah ditemuinya secara langsung semasa hidup. Ia mengaitkan kedua tokoh tersebut dengan pentingnya mempertahankan prinsip, sekaligus menyesuaikan langkah dengan perkembangan keadaan.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga konsistensi, tetapi tetap relevan dengan perkembangan zaman. Itu yang saya lihat dari Mbah Wahab dan Gus Dur,” katanya.
Dalam konteks pengentasan kemiskinan, Budiman menyampaikan bahwa masyarakat tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerima bantuan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam proses perubahan juga menjadi bagian penting dari upaya penanganan kemiskinan.
Kunjungan ke lingkungan pesantren di Jombang tersebut, turut dimanfaatkan Budiman untuk menggali nilai perjuangan para ulama dalam pemberdayaan masyarakat.
“Kunjungan ke Jombang ini, sekaligus menjadi upaya untuk menyerap nilai-nilai perjuangan dari lingkungan pesantren dan para ulama yang memiliki sejarah panjang dalam pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.
Sebelum berziarah ke makam Gus Dur, Budiman diterima Ibu Nyai Hj Farida Salahudin Wahid di Pondok Pesantren Tebuireng. Selanjutnya, rombongan menuju Pesantren Tambakberas dan bertemu dengan Pengasuh Ribath Al-Yahya Bahrul Ulum Tambakberas, Gus Amin Yahya.
Sebagai pejabat yang membantu Presiden Prabowo Subianto, Budiman mengatakan gagasan pembaruan tersebut ingin dibawanya dalam pelaksanaan tugas pemerintahan, termasuk percepatan pengentasan kemiskinan.
Ia berharap pemikiran para ulama NU dapat terus dikaji dan diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan di Indonesia.
“Semoga harta karun pemikiran para ulama besar NU ini terus kita gali dan bisa kita implementasikan untuk kemajuan Indonesia ke depan,” pungkasnya.
Leave a Comment