Minus 2 Hari Puasa Ramadan 1441 H, Omzet Pedagang Kembang Tabur Merosot

Penjual kembang tabur di RE Martadinata atau depan Pasar Citra Niaga Jombang.
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Jelang bulan Ramadan tahun ini, pedagang bunga tabur di jalan RE Martadinata, depan Pasar Citra Niaga, mengaku mengalami penurunan omzet. Kondisi ini, berbeda jauh dibanding H minus 2 puasa Ramadan tahun sebelumnya.

Hal ini diungkapkan beberapa pedagang kembang tabur, salah satunya Sumiyati. Menurutnya, jelang bulan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya, penjualan kembang tabur biasanya meningkat tajam sejak H minus 3 puasa Ramadan.

Baca Juga

“Untuk tahun ini turun sekitar 50 persen, biasanya kalau mau puasa ramai dan dapat untung lumayan. Mungkin tahun ini karena wabah Corona itu,” ucapnya pada KabarJombang.com, Selasa (21/4/2020).

Sumiyati mengaku, jika hari biasa, pendapatan menjual bunga tabur kisaran Rp 100 ribu. Pendapatannya meningkat tajam, saat jelang bulan puasa Ramadan. Dalam satu hari, dirinya bisa mengantongi keuntungan Rp 300 ribu.

Untuk memasok bunga tabur yang dia jual, apalagi saat jelang Ramadan, wanita asal Kebontemu Jombang ini mengaku mempersiapkan dana paling sedikit Rp 3 juta. Dia kulakan bunga tabur, dari beberapa daerah seperti Blitar, Nganjuk, Pasuruan dan Madiun.

Kembang yang dijual pun beragam jenis, mulai dari mawar, melati, kenanga, sedap malam, kantil, pandan. “Untuk dana kulakan, saya gadaikan BPKB. Tapi nggak tahu, apakah nanti bisa untung. Kalau kondisinya seperti ini, balik modal sudah bagus,” pungkasnya.

Senada dengan Sumiyati, penurunan omzet jualan kembang tabur jelang Ramadan tahun ini, juga dirasakan Sampir Basuki. Dia juga menaksir, daya beli kembang lebih diakibatkan wabah Covid-19. Terlebih, adanya kebijakan Phisycal Distancing dan imbauan Stay At Home, sangat berpengaruh terhadap pemasukannya.

“Tahun ini sepi mas. Apalagi pemasukan dari jualan kembang tidak menentu. Kadang bisa sampai Rp 100 ribu per hari, kadang di bawah itu. Di sini kan cuma pedagang kembang kecil, ada kebijakan ‘Di Rumah Saja’ seperti itu, jelas imbasnya ke kami besar. Pemasukan menurun, untuk kulakan buat jualan lagi juga sedikit,” jelasnya.

Pria asal Nganjuk ini juga mengatakan, berjualan kembang tabur bukannya tidak mau mengikuti kebijakan. Namun menurutnya, dirinya tetap berjualan karena sudah menjadi urusan biaya hidup sehari-hari.

“Harapan saya, semoga Corona ini cepat selesai, tidak tahan juga lama-lama dengan keadaan begini. Biar bisa jualan normal lagi,” pungkasnya.

Jualan kembang tabur, menjadi salah satu komoditi paling dicari saat jelang bulan Ramadan dan Syawal. Sebab, tradisi umat muslim membeli bunga tabur tersebut, untuk nyekar ke makam orang tua, sanak atau saudaranya yang sudah mendahuluinya.

INSTAGRAM

Berita Terkait