by

Masyarakat Ekonomi Rendah, Masih “Harapkan” Money Politic di Pesta Demokrasi

KABARJOMBANG.COM – Pesta demokrasi di wilayah Kota Santri mulai bergulir. Dalam hitungan jam, masyarakat mulai menentukan siapa pilihannya dalam menentukan kursi nomor satu di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Jombang. Pemerintah pusat melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai mensosialisasikan kampanye anti politik uang (money politic).

Namun nyatanya, masih ada masyarakat tingkat ekonomi rendah berharap adanya bagi-bagi uang dari peserta Pilkada. Seperti yang diungkapkan salah satu warga di Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (26/6/2018).

Menurutnya, banyak warga berharap adanya pembagian uang dalam perhelatan Pilkada Jombang periode 2018/2023. “Ya berharapnya ada yang memberi sangu (uang saku, red). Namun sampai saat ini belum ada kabarnya soal hal tersebut,” ujar SY (45), salah satu warga setempat.

Hal yang sama diutarakan SG (35) warga Desa Banjardowo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Dalam keterangannya, ia menilai masih banyak warga yang berharap adanya istilah “uang saku” dalam perhelatan Pilkada. Bukan tanpa alasan, dirinya menilai adanya warga yang berharap soal uang saku dalam pesta demokrasi merupakan bentuk ketidakpercayaan terhadap figur pemimpin yang selama ini ada pada sistem pemerintahan.

“Kalau tidak ada uang sakunya. Pasti banyak warga yang enggan memilih. Toh, kalau sudah jadi belum tentu ingat dengan kita, masyarakat kecil,” terangnya.

Meski begitu, hal berbeda dikatakan KTY (40) warga Kecamatan Plandaan lainnya. Dirinya tak menampik jika masih banyak warga yang memikirkan soal uang saku dalam perhelatan pesta demokrasi. Namun, ia menilai tak semua orang memiliki sudut pandang soal adanya hal tersebut. Justru, ia menilai adanya budaya money politic yang selama ini dikabarkan ada pada pemikiran masyarakat tingkat ekonomi rendah, merupakan budaya lama.

“Memang banyak yang berfikir, jika tidak diberi uang saku, mereka tidak akan berangkat ke TPS untuk memberikan hak suaranya dalam Pilbup, maupun Pilgub, hingga Pilpres. Kalau saya menilai, memang itu salah. Dan saya tidak berfikir seperti itu. Jika yakin dengan pilihan saya, ya saya coblos meskipun tanpa embel-embel,” katanya. (ari/kj)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya