Lingkungan Hidup

Dua Alat Berat Diterjunkan Normalisasi Kali Marmoyo untuk Tekan Banjir di Jombang

KABUH, KabarJombang.com – Upaya penanganan sumbatan aliran di Kali Marmoyo terus dilakukan guna menekan risiko banjir yang meluas di wilayah Kabupaten Jombang. Dua unit alat berat diterjunkan untuk membersihkan tumpukan bambu, sampah, serta vegetasi liar yang menghambat aliran sungai, khususnya di sekitar jembatan Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menjelaskan bahwa alat berat yang digunakan terdiri dari satu unit excavator amfibi milik Perum Jasa Tirta (PJT) serta satu unit excavator long arm milik Pemerintah Kabupaten Jombang.

“Excavator amfibi kami operasikan langsung di badan sungai karena jangkauannya lebih fleksibel. Sementara excavator long arm difungsikan dari tepi sungai karena jangkauannya terbatas,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Sabtu (17/1/2026).

Ia menambahkan, kegiatan pembersihan telah dimulai sejak Rabu (14/1/2026) dan dilakukan secara bertahap dari wilayah hulu. Tim gabungan lebih dulu menyisir Kecamatan Kudu, tepatnya dari Desa Bakalanrayung hingga Desa Kudubanjar, yang diketahui memiliki sejumlah titik sumbatan aliran.

Salah satu titik krusial berada di bawah jembatan Desa Tapen. Setelah material penghambat dibersihkan, aliran air di lokasi tersebut kembali normal. Saat ini, pekerjaan normalisasi dilanjutkan ke arah hilir Kali Marmoyo.

Fokus penanganan meliputi pembersihan tanaman liar di tengah sungai, seperti pohon waru dan rumpun bambu, serta sampah yang menumpuk. Berdasarkan hasil pemetaan PJT, terdapat sedikitnya lima titik sumbatan di sepanjang aliran Kali Marmoyo.

“Dengan dukungan alat berat, kami optimistis aliran air bisa kembali lancar. Meski potensi banjir belum sepenuhnya hilang, setidaknya genangan dapat berkurang dan surut lebih cepat,” kata Sultoni.

Sebelumnya, sumbatan di Kali Marmoyo memicu limpasan air hingga meluas ke wilayah Kecamatan Ngusikan. Air dari kawasan Ploso dan Kudu bahkan melintasi badan jalan dan masuk ke saluran pembuangan menuju Desa Kedungbogo dan Ketapangkuning dengan panjang aliran mencapai sekitar delapan kilometer.

Kondisi tersebut menyebabkan tinggi muka air di bagian hulu Dam Mernung, Desa Sumbernongko, masih berada pada level cukup tinggi meski belum melampaui tanggul.

“Penanganan sumbatan ini kami lakukan agar debit air dapat segera mengalir ke hilir, sehingga dampak banjir tidak berlangsung lama,” pungkasnya.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar