Kisah Para ‘Pak Ogah’ Sisihkan Rupiah untuk Bersedakah

pak ogah bersedekah dan santuni anak yatim
Dua orang 'Pak Ogah' di pintu barat by-pass Mojoagung saat 'berdinas'.
  • Whatsapp

MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Jangan pandang sebelah mata profesi atau aktivitas seseorang. Pandangan sepintas tak dapat menggambarkan apa yang seutuhnya terjadi pada dirinya.

Pesan itu barangkali yang bisa diambil setelah kita tahu apa yang dilakukan sekelompok ‘Polisi Cepek’ di persimpangan pintu barat by-pass Mojoagung, Kabupaten Jombang. Sekilas pandangan mata, 2-3 pria yang menyeberangkan pengedara itu cuma cari duit semata. ‘Tak membanggakan’ bagi sebagian orang.

Baca Juga

Benar mereka mengais rezeki dari aktifitas dan profesi itu. Tapi apakah itu adalah keseluruhan hidup mereka?

Jangan salah, selama setahun terakhir para ‘Polisi Cepek’ di persimpangan pintu barat by-pass Mojoagung itu berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 10 juta. Uang yang didapat dari urunan para ‘Pak Ogah’ itu disalurkan untuk anak yatim di kampung mereka, Dusun Slombok, Desa Plemahan Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, pada Bulan Muharam/Sura lalu.

Salah seorang ‘Pak Ogah’ di sana, Fawaid, kepada KabarJombang.com mengatakan, anggota ‘Polisi Cepek’ di persimpangan pintu barat by-pass mojoagung berjumlah 12 orang. Setiap habis ‘dinas’, masing-masing menyisihkan uang Rp. 5.000 dan menyerahkan ke kas kelompok untuk disalurkan kepada anak yatim.

Fawaid menuturkan, setiap kelompok yang terdiri dari 2 orang mendapat jatah shift ‘dinas’ 2 jam.

“Jadi habis jaga begitu, setelah 2 jam, menyisihkan uang minimal 5 ribu rupiah dan dikumpulkan. Setiap tahun, pas bulan Sura kita kasihkan ke anak yatim. Alhamdulillah, tahun ini terkumpul 10 juta rupiah dan kemarin pas bulan Sura sudah kita serahkan ke anak yatim,” ungkap Fawaid.

Dimintai tanggapan soal pandangan sebelah mata sebagian orang terhadap ‘Pak Ogah’ Fawai hanya tersenyum. Dengan nada datar dia katakan tak masalah. Apapun pandangan orang sah-sah saja.

“Enggak apa-apa, itu sah-sah saja kok. Yang penting kita enggak memaksa orang untuk mengasih uang ke kita. Lagian juga kita sementara ini niatnya membantu orang menyebrangkan. Nanti mungkin kalau rambu-rambunya berfungsi pasti kita tidak begini lagi,” jelasnya.

Di luar pandangan miring sebagian orang, di luar niat baik dan dorongan mulia berderma untuk anak yatim, lebih jauh Fawaid mengatakan, apa yang dia dan teman-tamannya lakoni sebenarnya berisiko terhadap keselamatan. Itu terutama ketika mereka berhadapan dengan para pengguna jalan yang diluar kendalinya.

“Risiko pasti ada. Pengendara tidak patuh, dimaki orang dan bahkan sampai cedera akibat kecelakaan. Saya aja ini kaki kiri pernah terlindas mobil Avanza, tapi ya tidak apa-apa, balik lagi ke niat baik kita, membantu menyebrangkan,” pungkasnya.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait