by

Kisah Inspiratif, Polisi Penjual Bumbu Dapur, Disaat Maraknya Pungli

JOMBANG, (kabarjombang.com) – Maraknya pungli yang saat ini banyak dilakukan beberapa oknum di institusi pemerintahan, membuat kita tercengang saat melihat kisah salah satu polisi yang memilih berprofesi lain untuk mencukupi kebutuhannya, yakni menjadi penjual bumbu keliling.

Dia adalah Aiptu Khamim, polisi yang bertugas di Polsek Wonosalam, Polres Jombang. Sosok yang aneh saat dibandingkan dengan fenomena tugas polisi yang rawan dengan pungutan liar (pungli) saat melaksanakan tugas di lapangan. Dalam profesinya yang menjadi seorang polisi berpangkat Aiptu, serta dengan keterbatasan ekonomi, dirinya lebih memilih mencari penghasilan lain diluar dinasnya sebagai korps berseragam coklat, dengan menjual bumbu keliling di pasar yang ada di Kota Santri.

Profesi yang sudah dijalaninya selama 15 tahun ini, dianggapnya lebih mulia ketimbang harus mencari rejeki yang merugikan masyarakat banyak. Selain itu, menurut pria yang memiliki 3 anak ini, penghasilan sebagai penjual bumbu jauh lebih baik saat diberikan kepada keluarganya. “Mungkin ini akan menjadi halal saat kita memberikannya kepada keluarga sebagai nafkah,” ujarnya, Selasa (18/10/2016).

Bukan tanpa alasan dirinya memilih profesi lain sebagai penjual bumbu. Sebab saat memilih untuk berkeluarga, dirinya mengalami krisis ekonomi saat ingin membangun rumah sebagai syarat seseorang ingin memiliki keluarga yang mandiri. Pasalnya, gaji dirinya saat itu tidak cukup untuk membangun rumah miliknya. Karena gajinya hanya cukup digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. “Saat itu, gaji saya hanya cukup untuk kebutuhan keluarga. Sehingga saat itu saya berfikir mencari penghasilan tambahan untuk bisa membangun rumah impian kami,” pungkas pria bertubuh kekar ini.

Selain susahnya mencari pembeli pada awal menjajakan bumbu yang diambilnya dari pabrik pembuat bumbu. Khamim juga harus merasakan panas dan dinginnya cuaca saat harus berkendara menjual bumbunya. Betapa tidak, jarak tempat tinggalnya dengan tempatnya bertugas cukup jauh, yakni dari Kabupaten Sidoarjo menuju Kabupaten Jombang. Jarak 35 kilometer setiap hari harus ditempuhnya, demi menjajakan bumbu miliknya sebelum bertugas sebagai anggota polisi.

Aiptu Khamim memanggul sendiri bumbu dagangannya ke pasar. (FOTO: AAN)
Aiptu Khamim memanggul sendiri bumbu dagangannya ke pasar. (FOTO: AAN)

“Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 03.00 WIB pagi dan sampai di pasar-pasar sekitar pukul 05.00 wib pagi. Dan itu saya lakukan agar tidak menganggu dinasnya saya sebagai anggota polisi,” paparnya.

Meski begitu, dirinya tak pernah mengeluhkan tentang predikat yang melekat padanya sebagai polisi penjual bumbu. Sebab teman-teman di kantornya juga mengaku memahami kondisi Khamim. “Teman-teman semua tahu bahwa saya juga menjual bumbu, termasuk pimpinan saya (Kapolres,red),” katanya.

Dengan beban bumbu seberat 2 kwintal setiap hari. Dirinya membawa daganganya dengan menggunakan motor yang menemaninya selama puluhan tahun menjadi anggota polisi. “Dengan membawa motor ini, saya membawa bumbu dan berangkat dari rumah menuju pasar untuk menjual dagangan saya,” pungkasnya.

Meski hanya mengambil untung Rp 200 per bumbu yang dijualnya. Dirinya tak pernah menganggap hal itu kecil. Sebab, menurutnya, pekerjaan lain sebagai penjual bumbu bukanlah profesi yang memalukan, meskipun saat ini dirinya juga bertugas sebagai anggota polisi di wilayah hukum Polres Jombang.

“Meskipun saya sebagai anggota polisi. Saya tidak malu untuk mencari penghasilan lain sebagai penjual bumbu dapur. Ini lebih mulia daripada harus merugikan orang lain,” tegasnya saat di temui di tempat Dinasnya beberapa waktu lalu.

Terbukti, lanjut polisi berkumis ini, hingga saat ini penghasilan tambahan dari menjual bumbu cukup untuk menghidupi keluarganya dari dulu hingga sekarang. “Alhamdulilah, dari hasil menjual bumbu, saya bisa menghidupi keluarga saya dengan baik,” pesannya. (aan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya