Kenali Penyebab Pelecehan Seksual, Ini Kata Direktur WCC Jombang

Direktur Woman Crisis Centre (WCC) Jombang, Ana Abdilah, Rabu (9/9/2020). (Foto: Anggraini).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Pelecehan seksual (PS) bukan lagi hal yang asing dan tidak bisa dihindari di sekitar kita. Hal itu, bisa ditemukan disetiap individu baik sebagai korban ataupun pelakunya.

Sehingga, perlu diketahui sebab dan cara mengantisipasinya seseorang bisa rentan mengalami pelecehan seksual.

Baca Juga

Menurut Direktur Woman Crisis Centre (WCC) Jombang, Ana Abdilah, penyebab PS terjadi karena masih mengakarnya rape culture dan ketimpangan relasi kuasa (salah satu merasa lebih dominan dalam mengontrol orang lain) yang masih terjadi saat ini.

“Kebanyakan pelaku suami kepada istri, guru kepada murid, pria kepada pacarnya, tokoh agama kepada santrinya, dan lain sebagainya,” ujar Ana melalui keterangan tertulis kepada KabarJombang.com, Rabu (9/9/2020).

Semua korban akan menjadi posisi rentan dan kebanyakan korban adalah perempuan. Demikian ini karena patriarki menempatkan perempuan diposisi subordinasi. Sehingga perempuan masuk dalam kategori kelompok rentan.

Data WCC Jombang tahun 2019 terdapat 82 kasus. Dan selama pandemi Covid-19 bulan Januari hingga Juli terdapat 51 kasus. Sedangkan, catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2020 menyebutkan, terdapat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2019. Angka tersebut naik 6% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 406.178.

“Motif  seseorang melakukan PS salah satunya bisa melalui pendekatan sosial media. Apalagi dalam situasi pandemi seperti ini akses remaja pada gadget cukup tinggi sehingga tangan rentan menjadi korban kekerasan berbasis gender online,” ungkapnya.

Dikatakan, dampak korban PS akan mengalami gangguan dalam psikisnya. Sehingga bisa menyebabkan korban menjadi trauma, murung, tidak percaya diri, dan lain-lain.

Dan dampak sosialnya bisa sampai dikucilkan dari lingkungan keluarga dan pergaulan bahkan diminta mengundurkan diri dari sekolah atau dikeluarkan.

Ia menyarankan, cara mengobati korban PS bisa dengan bantuan psikolog atau psikiater. Mencari circle yang supportif dan tidak judgemental agar dapat membantu penyintas untuk pulih dari traumanya.

“Korban dinyatakan sembuh dan pulih itu berbeda-beda karena setiap penyintas memiliki masanya sendiri-sendiri untuk bisa pulih menuju proses keberdayaan dalam dirinya. Dan tidak bisa disamakan antara korban satu dengan lainnya,” tandasnya.

Ana menyarankan agar para orangtua mengajarkan pada anaknya tentang sex education sedini mungkin. Hal ini agar nantinya dia dapat menciptakan body rules. Mana yg boleh dipegang, mana yg tidak. Dan bisa paham tentang resiko-resiko penyakit menular seksual dan lain-lain.

 

 

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait