Kembali ke Ponpes Tebuireng, Wali Santri Mendukung Pembelajaran Tatap Muka

Juru bicara (Jubir) Ponpes Tebuireng, Nur Hidayat. (Foto: Anggraini).
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com- Kembalinya santri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang ke Pondok, didukung wali santri. Pasalnya, dengan kemablinya ke pondok kegiatan belajar mengajar menggunakan system tatap muka.

Demikian ini, sebagaimana dikatakan Anita (32) wali santri asal Surabaya. “Memang antara sedih dan senang. Karena sudah ndak di rumah lagi dan kalau di rumah juga lebih banyak bermain gadgetnya. Jadi dengan kembalinya santri ini ya saya sebagai wali santri berharap anak-anak bisa mendapat ilmu dari para kiai dan guru,” ujar Anita kepada KabarJombang, Sabtu (7/11/2020).

Baca Juga

Lebih lanjut Anita mengatakan, untuk pergaulan saat ini sangat rawan bagi para remaja ataupun pelajar. Sehingga ia berinisiatif untuk memondokkan anaknya di Jombang.

Selama tujuh bulan melakukan pembelajaran daring, sebagai orangtua Anita mengaku sangat tidak efektif. Karena anaknya kesulitan bahkan tidak mengerti dan paham terkait pelajaran yang disampaikan gurunya.

Anita mengatakan, anaknya sekarang masih kelas 2 SMP/Tsanawiyah. Bahkan karena di rumah terus berat badan anaknya naik 2 kilogram.

“Jadi pembelajaran daring itu sangat tidak efektif, karena saya juga sebagai orangtua kan juga memiliki keterbatasan, ndak semua pelajaran kan saya bisa mengajari anak saya. Apalagi pelajaran sekarang beragam. Sampai saya datangkan guru les,” bebernya.

Ia mengharapkan dengan kembalinya para santri ke pondok dan melakukan pembelajaran tatap muka. Ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat untuk masa depannya.

“Semoga dengan kembalinya santri ini, pihak Ponpes bisa lebih menjaga para santrinya dan disiplin kebersihan dilingkungan pondok saat pandemi Covid-19 ini. Dan santri sendiri juga ndak usah keluar-keluar pondok, lebih manut sajalah sama pengasuh atau Pak Kiainya,” tandasnya.

Terpisah, juru bicara (Jubir) Ponpes Tebuireng, Nur Hidayat mengatakan, kembalinya para santri dibagi berdasarkan asal daerahnya dengan selang waktu sekitar 7 hari digelombang ketiga ini, mulai tanggal 7 Oktober hingga paling lambat 13 November 2020.

“Hari ini santri yang datang 248 tapi ndak mesti, kita membaginya berdasar asal daerahnya. Soalnya kalau mereka mau balik sama-sama kan lebih enak. Dan untuk hari ini masih daerah Jawa Timur,” ujar Dayat saat ditemui di Kawasan Makam Gus Dur, Sabtu (7/11/2020).

Lebih lanjut, Nur Hidayat mengatakan, untuk bisa menjalani tes swab PCR. Santri harus registrasi terlebih dahulu dan meletakkan barang-barangnya untuk diseterilkan diterop pertama dan mendapat nomor kamar maupun lebel. Kemudian santri masuk ke terop kedua untuk tahap screanning.

“Pilihan screanning dengan swab ini harapannya santri sudah bisa menjalankan pembelajaran secara tatap muka seperti yang diharapkan para wali santri. Meskipun santri dikarantina tetap mendapat materi seperti mengaji maupun kegiatan keagamaan lainnya,” katanya.

Selain itu, laniut Dayat, untuk menunggu hasil swab PCR keluar maksimal 8 jam, santri ditransitkan di tempat karantina di Kampus Unhas.

Setelah hasil keluar maka santri akan kembali dipilah, jika ada yang positif maka santri akan dikarantina. Sedangkan yang negatif, besoknya santri sudah bisa masuk asrama.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait